Powered by Blogger.

Tentang Saya

My Photo
Rizka Khairunnisa
View my complete profile

Followers

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

RSS

0 PROLOG


PROLOG

shabbygalsnest.blogspot.com


Kudorong troli barangku perlahan. Menyusuri lorong bersama penumpang pesawat lainnya. Aku sampai di sebuah ruangan besar, entah apa namanya karena aku belum pernah berada di sini sebelumnya. Banyak orang berkerumun. Berteriak memanggil-manggil, membawa karton bertuiskan huruf-huruf yang tidak aku mengerti.
“Hey, is there anyone that had pick you up?” suara di belakang mengagetkanku. Ternyata Mr. Park, teman seperjalananku. Beliau duduk di sebelahku tadi di pesawat.
“No, Sir. Not yet,” jawabku sopan sambil tersenyum. Aku melihat seorang wanita cantik di sebelahnya.
“Ah... Rasha, she is my wife.”
“Annyeonghasseo, Rasha,” ujar wanita itu sambil membungkuk.
“Anyeonghasseo Mrs. Park.Aku ikut membungkuk. Nice to meet you.” Aku menjawab sebisaku.
“Nice to meet you too,” ujar Mrs. Park lagi.
Hening sejenak. Aku masih diam membungkuk. Punggungku rata dengan kepala. Aku tidak tahu kalau Mrs. Park masih membungkuk atau tidak.
“Rasha, are you okay?” tanya Mr. Park. Aku langsung bangkit. Wajahnya kaget sekaligus bingung karena aku tegak kembali setelah lama sekali membungkuk.
“Eh... I’m okay, Sir.” Aku nyengir kuda. Malu setengah dongkol. Aku kira tadi Mrs. Park masih membungkuk. Kata Mey, dalam tradisi membungkuk, orang yang lebih tua lah yang tegak duluan, baru yang lebih muda. Itu sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua. Aku menunggu Mrs. Park selesai membungkuk , tapi ternyata dia sudah tegak lagi.
“Well, if you are okay. I’ve got to go. My kids are waiting at home. See you.” Mr. Park melambaikan tangan, Mrs. Park juga.
“See you, Mr. Park, see you Mrs. Park. Thanks for our enjoyable trip.” Aku melambaikan tangan. Mr. Park tertawa renyah.
“Call me if you have at home. Bye.”
“Okay, Sir. Bye.” Aku tersenyum.
Senang sekali punya teman perjalanan sebaik Mr. Park. Dia adalah seorang kontraktor di sebuah perusahaan properti. Beliau menceritakan pekerjaannya di Jakarta, membangun proyek-proyek besar. Juga cerita anak-anaknya yang masih kecil. Aku paling suka cerita pengalamannya pertama kali ke Jakarta, tentang berbagai tabu atau orang Sunda bilang pamali yang ditemuinya ketika bekerja, saat berbincang dengan pegawainya yang orang Indonesia. Misalnya, tidak boleh makan di ambang pintu, nanti tidak bertemu dengan jodoh, atau jangan mandi ketika petang, nanti jadi perawan tua. Berbagai tabu lain yang dianggapnya lucu, tapi tidak ia langgar karena menghormati budaya para pegawainya. Aku sempat menjelaskan bahwa itu hanya taktik orang tua jaman dahulu saja agar anak-anak tidak mengahalangi orang ketika melewati pintu, atau agar anak-anak lekas mandi sore. Sangat menyenangkan mengobrol dengan Mr. Park, sampai menempuh jarak Jakarta-Seoul yang lamanya tujuh jam serasa jadi tujuh menit. Tetapi kami tetap harus berpisah. Bahkan aku lupa menanyakan nama panjangnya. Park hanyalah nama marganya. Ada jutaan orang bermarga Park di Korea.
Kembali kudorong troli barangku perlahan. Mencari-cari orang yang membawa karton bertuliskan namaku. Kerumunan orang ini panjang sekali, tapi sampai kerumunan paling ujungpun tidak ada yang menjemputku.
“Menyebalkan,” desisku. Yah, aku tidak mengerti pikiran orang itu. Dulu dia datang padaku tiba-tiba sampai aku kira dia penjahat yang suka memperjualbelikan manusia. Sekarang menjemputku saja dia terlambat.
 Aku dorong troliku ke arah ruang tunggu. Aku duduk di kursi, meregangkan tangan sambil menunggu. Sudah dua puluh menit. Kerumunan penjemput sudah berkurang, walaupun belum benar-benar sepi. Sebal menunggu, aku mengambil air minum di tasku. Kuteguk cepat air dari botol kecil saking hausnya, sampai kuangkat botolku tinggi-tinggi. Air di botol habis, kuturunkan botol tetapi masih ada air di dalam mulutku. Pipiku menggembung.
“Hai, Rasha.” Orang itu muncul tepat di depan hidungku.
“Pfffffff.” Air di mulutku menyembur tanpa bisa kutahan. Kemudian lima detik yang hening. Orang itu terpana melihat wajah dan bajunya basah, aku melongo karena akulah menyebabkan itu semua. Orang-orang di bandara menoleh ke arah kami, melihat seorang laki-laki yang memelototi bajunya dan seorang gadis yang memasang tampang konyol. Beberapa dari mereka bisik-bisik, ada yang tersenyum, selebihnya menoleh lagi tidak peduli.
Aku menyeringai ke arah orang itu, tanpa merasa berdosa. Adegan selanjutnya sudah bisa ditebak. Dia menyeretku dengan paksa. Tangan kirinya mendorong troli barangku, tangan kanannya mencengkeram lenganku dan segera pergi dari tempat itu. Sampai di mobil, dia membuka bagasi dan menaruh satu persatu barangku di dalamnya. Begitu cepat bahkan untuk membantunya memasukkan barang saja aku tidak sempat. Maksudku, berpikir untuk membantunya pun tidak sempat. Dia mendesis persis ular menyuruhku masuk mobil. Aku duduk di kursi belakang sedan hitam itu, sementara dia di kokpit pengemudi. Mobil melaju kencang membelah kota Seoul.
Setelah beberapa menit, kami saling diam. Akhirnya dia yang mulai pertama bersuara.
“You don’t want to say apologize?” tanyanya. Aku mengernyitkan dahi. Dia bertanya atau menyuruh?
“Sorry,” jawabku dingin. Dia mengangkat bahu. Selesai.
“You shouldn’t do that to me,” ujarnya.
“Do what?” tanyaku bingung.
“The silly thing just now, what’s more?” dia menyeringai.
Aku mendengus kesal. “That wasn’t my fault,” ujarku dingin.
“But you have splashed water to my clothes. It’s Armani, you know.” Aku memutar bola mataku, kesal. Mau Armani kek, Prada kek, Dagadu Djokja kek, Joger Bali kek, apa peduliku?
“I was drinking. Then you made me surprised. Your face was in front of my nose. It was uncontrolled,” jawabku sewot.
“Yeah, whatever.” Dia mengangkat bahu lagi. Baguslah, dia menyerah. Jelas-jelas dia yang salah. Dasar menyebalkan.
Menit demi menit berlalu. Aku menatap gedung-gedung di luar melalui jendela. Gedung-gedung pencakar langit menjulang seolah ingin mencengkeram awan. Berlomba-lomba siapa yang paling tinggi. Tapi tidak ada satupun gedung yang puncaknya berkabut seperti Gunung Bromo di Indonesia. Hhhh, aku rindu Indonesia. Padahal baru tujuh jam lebih aku di sini. Mana aku betah tinggal dengan monster ini? Aku baru sadar ketika dia membuka pintu dan mengomel seperti ibu-ibu belanja cabai yang harganya naik.
“Are you deaf, hah? I called you many times!” omelnya lagi. Bahkan omelannya lebih parah dari supir angkot ketika jalanan sedang macet.
Aku turun dari mobil sambil menahan kesal. Enak saja aku dibilang tuli. Dia menyuruh seseorang mengangkut barangku di bagasi. Aku menutup pintu mobil dengan keras. Sekarang orang itu memanggil orang lain dan menyerahkan kunci mobil. Laki-laki itu memasuki mobil dan memarkirnya. Mobil sedan yang kutumpangi berlalu. Kini di depanku berdiri kokoh sebuah gedung tinggi, besar dan megah. Paling tinggi di antara gedung-gedung lain di sekitarnya. Entah ada berapa lantai, mungkin belasan atau bahkan puluhan. Semua permukaan gedung itu ditutupi kaca, biru dan bening. Aku menatap gedung itu agak lama. Gedung apa ini? Hotel?
“Welcome home, Rasha,” ujar orang itu.
“What? Home?” Aku mengernyit. “It’s a hotel!” seruku.
Orang itu menggeleng. “No, Rasha, it’s your home,” katanya. “Our home.”
Aku berjengit. Hei, rumahku bukan di sini. Rumahku kecil di kota Bandung sana. Seenaknya saja bicara.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment