Powered by Blogger.

Tentang Saya

My Photo
Rizka Khairunnisa
View my complete profile

Followers

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

RSS

4 ALISHA

ALISHA

 gracecoolstories.blogspot.com



Alisha Zahra. Nama itu yang diberikan oleh pasangan Bapak Feri dan Ibu Alinda ketika seorang bayi mungil lahir di pertengahan bulan Juni. Saat tumbuh besar, mama Alisha selalu tahu kalau anak semata wayangnya akan tumbuh seperti seorang putri raja. Ketika beranjak dewasa, Alisha memiliki predikat tertinggi dalam kaum perempuan (menurut mamanya Alisha), calon menantu idaman. Lembut, pintar memasak, pandai mengurus rumah, cantik langsing tinggi semampai, dan lain-lain. Aku meringis menyadari aku tidak memiliki sifat itu semua.
Jika ketika kecil Alisha senang bermain masak-masakan, ketika remaja dia sudah mahir masak betulan. Mulai dari tumis kangkung sampai steak yang biasa disajikan di restoran. Mama Alisha telaten mengajari putrinya, dan Alisha juga belajar sendiri dari buku resep atau resep-resep baru di majalah langganannya. Jika masa kecilnya dihiasi dengan bermain boneka dan memadu-padankan pakaian Barbie, masa SMA Alisha dihabiskan dengan melihat-lihat mode pakaian terbaru dan memadu-padankannya untuk dirinya sendiri. Beberapa bulan terakhir bahkan dia mengurusi pakaian kami. Dia selalu bilang matanya gatal jika melihat pakaian yang tidak matching atau asal tabrak warna. Emy sudah bersedia membantu menggarukkan mata Alisha dengan garpu, tapi Alisha malah mengomel. Yang ia maksud pakaian yang tidak matching adalah pakaian Emy. Baju Emy lebih terkesan casual, tapi kadang-kadang dia seperti pengamen jika tidak sedang memakai seragam. Bukan maksudku menghina pengamen, tapi bayangkanlah penampilan pengamen yang tidak mandi seminggu. Seperti itulah Emy. Terutama pada hari Jumat, ketika tingkat pusingnya terhadap pelajaran memuncak. Aku curiga jangan-jangan Emy memang tidak mandi sejak hari Senin, karena dia begitu lusuh. Roni yang laki-laki bahkan lebih kece dalam berpenampilan dibanding kembarannya yang perempuan.
Saat Alisha masih SD, mamanya membuka sebuah butik dengan nama Alisha. Mamanya berharap putrinya bisa mengelola butik itu nanti setelah dewasa. Untunglah Alisha tumbuh seperti yang diharapkan. Kini Alisha mahir menggambar desain pakaian karena diajari oleh mamanya. Sesekali dia menjahit baju desainnya sendiri. Selera fashion-nya tidak bisa dianggap remeh. Urusan kostum dalam video kami dia yang mengurus. Aku tidak pernah tahu dibawa ke mana baju-baju dan gaun yang pernah kami pakai ketika shooting. Mungkin dipakaikan ke mannequin untuk dipajang.
Ketika Alisha meminta kami menyebutkan satu kata yang menggambarkan dirinya, Emy langsung menjawab ‘cerewet’. Daisy menjawab ‘fashionista (dia menekankan pada suku kata nis-ta, entah apa maksudnya) dan Mey menjawab ‘chef’. Aku bingung menjawab apa akhirnya terlontar kata ‘bijak’. Mata Alisha berbinar seperti tokoh kartun ketika aku menyebutkan kata itu. Emy mendengus dan menggumamkan ‘sok dewasa’. Alisha langsung melotot tidak terima.
Jika ingin membayangkan seperti apa Alisha, bayangkan saja putri Solo di kerajaan. Lemah lembut, penuh sopan santun, dan pintar berdandan. Alisha memang yang paling putih di antara kami. Alisha keturunan Jawa, dan keluarganya sangat menjunjung tinggi sopan santun dan mengajari temanku yang satu ini segala tetek bengek soal tata krama. Bahkan walaupun aku dan Alisha lahir selisih beberapa bulan, dia bersikeras memanggilku ‘Mbak’ karena aku lebih tua. Aku merasa risih dipanggil begitu, seolah aku ini petugas minimarket. ‘Mbak, odolnya sebelah mana, ya?’. Aku tegas menolak, karena menurutku Alisha cenderung lebih dewasa dalam bersikap dibanding aku. Alisha tidak pernah berkata elo-gue sama sepertiku, karena memang orangtuanya melarang.
“Sebagai manusia kita itu harus nrimo, jangan seenaknya menuntut terlalu banyak dari Tuhan. Jangan merasa sok, seolah kita bisa semua hal. Bahkan untuk memotong rumput pun kita perlu tukang kebun, kan?” ceramahnya suatu hari. Aku terheran, padahal tadi aku bertanya apa tema karangan bahasa Indonesia buatannya. Alisha garuk-garuk kepala dan bilang kalau dia sedang menceramahi Emy. Emy yang sedang menggunting kuku hanya mengangkat bahu. Jika sedang banyak pikiran, omongan Alisha kadang tidak nyambung.
Seperti sekarang. Aku bertanya pada Alisha bagaimana kabar butik mamanya. Sebab kami mendengar kabar dari Mey kalau Toko Lampu Koh Acing sekarang ramai oleh pembeli. Bahkan sering sekali datang pesanan dari Jakarta, katanya untuk syuting sinetron. Aku tak habis pikir, memangnya di Jakarta tidak ada toko lampu? Jika toko Koh Acing ramai, bagaimana tidak dengan butik mamanya Alisha. Tapi ketika kutanya, gadis ini malah menangkupkan telapak tangan di wajahnya.
“Aku maluuuuu,” ujarnya setengah berteriak. Untungnya kelas sedang sepi. Semua anak sekelas beramai-ramai ke kantin kecuali kami berlima. Alisha membawakan makanan hadiah dari mamanya untuk kami.
“Malu sama siapa, Al?” tanyaku.
“Aku maluuuuuu. Aku bingung harus gimana kalau ketemu.”  Aku memutar bola mata, mulai gak nyambung nih anak. Aku menggoyang-goyangkan bahunya, dia malah telungkup di atas meja. “Aku bingung harus gimanaaaaa.”
Aku menoleh pada yang lain. “Kenapa dia? Mencret?” tanyaku.
Mey sibuk mengunyah sandwich buatan mamanya Alisha di tangannya. ”Paling juga sama Kak Ari,” ujarnya. “Sejak syuting waktu itu dia jadi salting terus kalo ketemu Kak Ari.”
“Jangan berharap terlalu banyak, Al. Siapa tahu dia udah punya pacar,” sahut Daisy.
Alisha langsung tegak, “Nggak mungkin!” serunya. “Aku udah tanya sama Roni, sama kakak kelas yang sekelas sama Kak Ari juga, Kak Ari gak punya pacar!”
“Ya kan siapa tahu,” kata Mey.
“Eh, liat nih!” seru Emy. Kami menoleh padanya. Dia sedang membuka situs Youtube. “Viewers video kita yang pertama, yang lagunya Sherina udah sampe 60.000 lebih!”
Kami berebut menatap layar laptop Emy. Terkejut sekaligus senang. “Emy menunjuk ke tengah layar. “Liat, yang nge-like video ini ada 189, yang dislike ada 35. Hmm, gak apa-apa lah.” Aku manggut-manggut mendengarnya. Setengah mengerti, setengah tidak.
“Coba liat komentarnya apa aja,” ujar Daisy. Emy menyentuh touchpad pada laptopnya. Menggeser tampilan lebih ke bawah.
Ketika kami asyik menontoni laptop Emy, tiba-tiba terdengar suara gebrakan di meja. “Brakkk!”
Kami semua terlonjak kaget. Kemudian melotot pada Roni. Yang dipelototi cuma nyengir.
“Al, elo dipanggil!” seru Roni.
“Eh? Aku? Sama siapa?”
“Sama kak Ari. Tuh dia nunggu di luar kelas.” Roni menunjuk ke arah pintu. Aku tersenyum. Emy bersiul-siul menggoda. Alisha tersipu.
Alisha kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Setelah beberapa langkah ia menoleh ke belakang.
“Goodluck!” Mey berseru sambil mengepalkan telapak tangannya. Daisy mengangkat kedua jempolnya. Bahkan dia hampir membuka sepatu dan mengangkat jempol kakinya sebelum aku cegah. Alisha berjalan lagi ketika Emy mengoceh kalau video kami yang kedua sudah ditonton ratusan orang.
“Kak Ari mau ngapain sama Alisha?” tanyaku pada Roni. Roni mengangkat bahu. Anak itu sedang berjingkat aneh. Mirip maling yang mau mencuri kulkas.
“Mau ‘nembak’ kali,” jawabnya singkat.
“Secepat itu? Yang bener?”
“Mana gue tau, Sha.”
“Heh, kamu mau ngapain?” seruku melihatnya membungkuk di bawah jendela.
“Sssstttt,” Roni menempelkan telunjuk di bibirnya. Kemudian menatapku galak, diem gue mau nguping. Aku cuma geleng-geleng kepala.
Sebenarnya, tanpa Roni mencuri dengarpun kami tahu apa yang dibicarakan Kak Ari pada Alisha. Setidaknya kami tahu gambaran besarnya. Karena ketika Alisha masuk ke dalam kelas dan menghampiri kami sepuluh menit kemudian, dia sudah menangis sesenggukan.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

“Udah dong, Al. Jangan nangis terus. Nanti tisu aku abis,” bujukku pada Alisha. Yang dibujuk tetap saja menangis. Mengambil tisu baru dan mengeluarkan ingus. Daisy berjengit jijik.
“Biarin aja, biar dia puas,” ujar Mey. Dia sibuk dengan notes mungilnya.
Aku menghela napas, terpaksa setuju dengan Mey. Ini adalah salah satu kebiasaan buruk Alisha. Dia jarang menangis, jadi sekalinya dia menangis tidak akan berhenti-berhenti kecuali jika matanya sudah bintitan dan susah melihat saking bengkak kelopak matanya. Aku ingat ketika masih kelas sepuluh Alisha pernah menangis dimarahi papanya karena handphone Alisha hilang. Hari itu hari Minggu pagi ketika dia datang ke rumahku sambil sesenggukan. Ketika aku tanya mengapa dia tidak meng-sms-ku terlebih dahulu, tangisannya malah semakin kencang. Aku menelepon Daisy, Emy dan Mey untuk membantuku menenangkan Alisha. Alisha baru berhenti menangis ketika kami ajak dia menonton fim komedi di bioskop malam harinya. Waktu kami mengantarnya pulang, Alisha tertidur di angkot karena kelelahan. Bagaimana tidak, dari pagi sampai malam dia menangis terus-terusan. Esok harinya ketika upacara bendera hari Senin dia diledek oleh teman-teman sekelas karena kelopak matanya membengkak. Bibirnya manyun sepanjang hari.
“Gue ikut ke kamar mandi, Sha.” Daisy beranjak dari sofa.
“Sekalian ambilin tisu di lemari ya.” Daisy mengangguk.
Kami sedang berada di rumahku. Libur dengan kegiatan membuat video dan tugas sekolah, kami ingin sedikit bersantai. Mengendurkan syaraf setelah beberapa minggu diteriaki terus oleh mamanya Daisy. Hari ini Alisha membawa mobil. Papanya berbaik hati mengizinkan Alisha menyetir karena sudah membantu mamanya mempromosikan butik. Tapi dengan keadaan yang tidak memungkinkan, sepulang sekolah Emy yang memegang setir. Emy selalu mencari tikungan yang tidak dijaga polisi, takut sekali jika dia diminta menunjukkan SIM. Alisha sudah memiliki SIM, sedangkan Emy belum.
Daisy keluar dari dapur sambil membawa tisu gulung. Aku membuka kotak tisu yang sedari tadi dipeluk Alisha. Aku melongo ketika tisu yang kukeluarkan dari kotak sudah habis, padahal baru tiga hari yang lalu aku menggantinya. Setelah memasukkan gulungan tisu baru ke dalam kotaknya, Alisha langsung merebut kotak tisu dariku, merobek sehelai lalu mengusap mata dan pipinya. Kemudian mengeluarkan ingus lagi.
“Sebenernya kamu tuh kenapa sih, Al?” tanyaku.
“Dimarahin Kak Ari.” Bukan Alisha yang menjawab, melainkan Roni. Mulutnya sudah gatal sejak Alisha masuk kelas sambil menangis tadi siang. Tapi Emy menyuruhnya tutup mulut dan membiarkan Alisha sendiri yang bercerita. Tetapi karena Alisha terus menerus diam sampai sekarang, akhirnya aku memaksa Roni menceritakannya pada kami.
“Kak Ari marah sama Alisha, soalnya..”
“Ngapain dia marah? Emangnya Alisha ngapain?” potong Mey sewot.
“Dengerin dulu,” ujar Roni tak kalah sewot. “Kak Ari marah soalnya dia nggak tahu kalau akibat dia jadi model buat video kita malah jadi gini.”
“Jadi gini gimana?” tanyaku tidak mengerti.
Roni menggaruk kepala. “Ng… Aku lupa persisnya gimana waktu Kak Ari ngomong ke Al, tapi intinya pacarnya Kak Ari ngeliat video kita di Youtube dan dia marah sama Kak Ari.”
“Heh? Kak Ari punya pacar?” sahut Emy. “Di sekolah?”
Roni menggeleng. “Di Makassar.”
“Wuidih, jauh amat,” gumam Daisy. “Kayak di Bandung nggak ada cewek aja. Tau dari mana elo, Ron?”
“Tadi siang waktu Kak Ari ngomong sama Al.”
“Terus?” tanyaku penasaran.
“Kak Ari juga kayaknya tau kalo Alisha suka sama dia, soalnya Al sering salting kalo ketemu Kak Ari. Jadi…” kata-kata Roni menggantung.
“Jadi?” tanya Emy.
Roni terdiam sejenak. Dia menghela napas sebelum melanjutkan. “Kak Ari minta Alisha buat bersikap biasa aja dan tetap menganggapnya sebagai teman biasa.” Roni menekankan ucapannya pada kata ‘teman’. Mulut kami membulat serempak. Daisy bergumam ‘menusuk’ tapi tidak begitu jelas. Mungkin takut terdengar Alisha.
Tiba-tiba Alisha berdiri dan langsung berlari ke belakang. Kami semua saling pandang, bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan teman kami yang satu ini. Setelah kami menunggu lima menit dengan cemas, Alisha akhirnya keluar dari kamar mandi.
“Aku mencret,” katanya melapor. Aku menahan tawa. Penyakit langganan Alisha adalah mencret.
“Kalo sakit tuh yang elit dikit kenapa? Flu kek, tipes kek, apa kek. Ini malah mencret,” sahut Emy. Alisha manyun. Dia kembali duduk di sofa dan meraih telepon genggamnya. Aku melirik layar handphone-nya sekilas, ternyata dia sedang menghapus nomor telepon Kak Ari.
Hening sejenak. Aku melamun, bingung  harus melakukan apa setelah kejadian menyedihkan yang menimpa Alisha. Kemudian Daisy menyalakan tv. Selama beberapa menit hanya ada suara tv dan suara sesenggukan Alisha. Aku memperhatikan si kembar. Mereka menyandar pada sofa sambil melamun berdua. Aku penasaran apakah khayalan mereka berdua sama atau tidak. Mey mengutak-atik telepon genggamnya, sementara Daisy menekan remote mangganti-ganti saluran tv. Alisha hanya menatap nanar layar tv. Tiba-tiba Mey berteriak. Suaranya mirip kucing kejepit.
“Kenapa?” tanya Roni yang sudah tersadar dari lamunannya.
“Kita dapet order!” Mey berseru senang. Aku tersenyum.
 “Dari mana?” tanya Daisy.
Mey masih senyum-senyum. “Toko gorden! Barusan nge-sms. Nih.” Mey menyerahkan handphone-nya pada Daisy. Sekarang pemesanan jasa iklan kami melalui Mey. Roni sudah mencantumkan nomor handphone Mey di blog yang dikelola oleh Roni.
Aku yang mendengar kabar baik ini langsung memutar otak bagaimana gambaran yang bagus untuk video kami yang ketiga ini.
“Aku ada ide!” seru Alisha. Akhirnya dia bersuara lagi. “Aku tahu lagu bagus yang bisa kita nyanyiin.”
Daisy mengerutkan kening. Memilih lagu adalah tugasnya. Dia tidak terima bagiannya dicaplok begitu saja oleh Alisha.
“Lagu siapa?” tanyaku.
“Rossa,” jawab Alisha. Mukanya tampak serius.
Roni mendengus menahan tawa. “Kamu mau ngegalau, Al?” tanyanya. Alisha melotot.
“Lagu apa? Aku Bukan Untukmu? Atau Memeluk Bulan?” Emy menyebutkan dua judul lagu sedih. Kemudian dia tertawa. “Mau meratapi nasib, ya?” Gantian Emy yang dipelototi.
“Bukan,” bantah Alisha. “Tapi Hey Ladies.”
“Eh? Lagu apa itu?” tanyaku.
“Masih lagu Rossa.” Daisy yang menjawab. “Sebenernya lagu patah hati juga, tapi iramanya cepat. Ceritanya tentang perempuan yang ngasih tau ke sesama perempuan supaya nggak dipermainkan sama laki-laki seperti yang dialami si perempuan yang nyanyi.” Tawa Roni dan Emy semakin keras. Alisha sudah tidak peduli.
“Gimana, Mey?” tanyaku.
Mey menimbang sebentar. “Hmm, boleh.” Mey membuka notes kecilnya dan langsung menuliskan sesuatu.
“Tapi ada satu catatan,” ujar Alisha. Kami memandangnya ingin tahu. “Aku mau nyanyi sendiri.”
Tawa Roni dan Emy terhenti seketika.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

Sebenarnya Daisy sudah mencegah Alisha agar tidak menyanyi sendiri. Bukan karena nantinya kami tidak akan dapat bagian, tapi lebih kepada kasihan. Ketika latihan vokal berlima saja semuanya kena semprot oleh Tante Mona. Apalagi jika Alisha yang menyanyi sendiri. Bayangkan omelan Tante Mona untuk kami berlima sekarang tertumpuk pada Alisha semua. Kami yang menontonnya latihan hanya bisa menatapnya iba. Tapi Alisha tahan banting. Meski dia anak tunggal sepertiku, dia tidak mengeluh sedikit pun. Omelan Tante Mona tidak ada apa-apanya bagi Alisha.
Aku teringat ketika SMP Alisha sering di-bully ketika masih kelas delapan oleh anak perempuan kelas sembilan. Dituduh sok centil lah, sok cantik lah, entah apalagi. Hampir setiap minggu seragam Alisha basah kuyup, karena kakak kelas yang menyebalkan itu meletakkan gayung berisi air di atas pintu kamar mandi. Ketika Alisha membuka pintu kamar mandi, gayung itu jatuh dan seragamnya pun tersiram air. Belum lagi kolong meja Alisha yang kadang dipenuhi sampah. Walau tidak tahu pasti siapa pelakunya, kami sudah curiga pada kakak kelas yang membenci Alisha. Kami gotong royong membantu membersihkan kolong meja Alisha. Sepertinya segala isi tempat sampah dimasukkan ke dalam kolong meja. Aku hanya bisa menggeleng prihatin. Pernah satu kali Alisha dilabrak oleh kakak kelas itu, keroyokan oleh lima orang. Waktu itu aku dan yang lain sedang pergi ke kantin, Alisha di kelas sendirian. Alisha sudah jatuh terduduk di depan kakak kelas itu ketika kami kembali dari kantin. Bibirnya berdarah, jidatnya memar, pipinya merah. Jelas pipinya merah bukan karena malu, melainkan ditampar. Saat itu Mey langsung melapor ke ruang guru, aku dan Daisy memapah Alisha ke UKS sedangkan Emy membentak kakak kelas itu. Aku menoleh ke belakang ketika sedang membantu Alisha berjalan. Emy tengah memegang kerah seragam kakak kelas itu sambil memelototinya. Jika Alisha sedang ada masalah, Emy selalu jadi yang paling depan membelanya.
Kabar baik bagi kami, kakak kelas dan komplotannya yang melabrak Alisha itu akhirnya diskors selama tiga hari. Kami semua senang mendengarnya, walaupun hal itu tidak menyembuhkan memar dan luka yang didapat Alisha. Tapi yang aku kagum dari Alisha, dia tidak pernah mengeluh atau menangis karena dikerjai habis-habisan.
“Aku nggak salah, kok. Dia aja yang iri karena aku emang cantik,” ujarnya. Kami semua tertawa. Alisha memang cantik, bahkan banyak kakak kelas laki-laki ketika SMP yang mendekatinya. Salah satunya adalah kakak kelas laki-laki yang disukai kakak kelas perempuan yang melabrak Alisha. Itulah alasan mengapa dia dikerjai selama dua bulan. Aku sering tertawa membayangkan masa-masa SMP yang konyol itu.
Saat ini aku, Mey, Daisy, dan Emy sedang berlatih gerakan untuk lagu baru di rumah Daisy. Alisha sedang latihan vokal di ruang tengah bersama Tante Mona. Awalnya kami juga berlatih di ruang tengah karena ruangannya sangat luas. Tapi kami tidak tega melihat Alisha terus-terusan diomeli, maka kami berpindah tempat ke kamar Daisy. Kamarnya memang cukup luas walau kasurnya yang sebesar matras untuk senam di sekolah harus kami geser ke pinggir.
Kami sudah berlatih selama dua jam. Sudah cukup hafal dengan gerakannya dan Emy memutuskan agar kami beristirahat. Kami memilih rebahan di kasur Daisy, berdesak-desakkan seperti sarden. Tiba-tiba Alisha mendorong pintu dengan kuat hingga menimbulkan suara berisik. Kami langsung menoleh padanya.
Matanya masih bengkak padahal sudah lewat dua hari sejak dia menangis waktu itu. Entahlah, mungkin dia menangis di kamarnya semalaman. Kontras dengan matanya yang bintitan, bibirnya tersenyum lebar. Aku terheran, sebab sejam terakhir Tante Mona masih membentaknya soal pitch control. Entah makanan apa itu.
“Aku udah boleh rekaman,” katanya singkat. Mulutku menganga. Secepat itu?
“Serius?” tanya Daisy. “Tapi kamu udah dua jam dimarahin doang.”
Alisha mengangkat bahu. Dia merebahkan tubuhnya di kasur bersama kami. Memaksa Emy agar menggeserkan kakinya. “Aku turutin semua nasihat mama kamu, Sy,” ujarnya. “Ternyata kata-kata mama kamu benar juga. Asal kita menghiraukan omelannya, aku tau apa kesalahanku dan langsung memperbaikinya.”
Mulutku membulat. Kami semua diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku masih membayangkan konsep iklan seperti apa untuk toko gorden kali ini. Baru saja aku memikirkannya, tiba-tiba Mey bangkit dan duduk memandangku.
“Tema kita kali ini apa, Sha?” tanyanya padaku.
Aku berdeham tidak yakin. “Eh, colourfull day?” Aku menjawabnya dengan nada bertanya, meminta pendapat.
“Kenapa harus colourfull?” tanya Emy.
“Karena kita bakal pasang gorden yang warna-warni.” Daisy yang menjawab. “Kita harus menonjolkan jenis-jenis gorden yang kita iklanin nanti. Iya kan, Sha?” Daisy menatapku.
Aku mengangguk. “Gorden yang kita pakai harus berbeda-beda model dan berbeda-beda warna. Biar colourfull. Baju kita juga harus warna-warni. Kamu bisa siapin kan, Al?” Aku melirik Alisha. Dia mengangkat jempol kanannya.
Alisha kemudian ikut bangkit dan duduk memandang Emy yang masih rebahan. “Eh, kamu udah bikin koreografinya? Kalian beneran kan jadi penari latar aku?” Emy mendesah dan mengangguk. Alisha melonjak senang. Bernyanyi dan diiringi penari latar. Seperti penyanyi profesional saja.
Yah, apapun permintaan Alisha akan kami lakukan. Agar dia tidak ingat dengan sakit hatinya lagi dan menangis seharian. Apapun akan kami lakukan untuk teman kami yang manis dan cantik ini. Apapun.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

“Aduh, pelan-pelan, Al,” gerutu Emy. Dia mengusap pipinya. “Kalo pakein bedak gak usah kayak yang mau nonjok gitu dong.”
Alisha menyeringai. “Sori, aku terlalu semangat.” Dia membubuhkan bedak ke pipi Emy lagi. “Cuma sedikit ditekan, My. Biar bedaknya lebih nempel. Biar daki-daki kamu ketutupan.” Emy manyun. Alisha menjulurkan lidah.
“Al, giliran gue kapan?” tanya Daisy. “Dia udah hampir setengah jam didandanin. Mau nunggu sampe subuh?”
“Bentar lagi, maklum nih kulitnya kusam jadi make up buat Emy aku kasih agak tebel.”
Emy terlonjak. “Hah? Tebel?”
Alisha tersenyum. “Nggak setebel penganten di kawinan kok.” Alisha terkekeh. “Sini aku pakein eyeshadow.”
Hari ini kami shooting. Setelah proses rekaman yang cukup singkat (Tante Mona tidak terlalu cerewet saat Alisha rekaman, sebuah kenyataan aneh) dan beberapa model gorden diangkut oleh Roni, kami siap untuk pengambilan gambar. Kami berada di rumah Alisha, karena rumahnya luas dan sepi. Mama Alisha ada di butik sedangkan papanya pergi bekerja. Hanya ada seorang pembantu di rumah. Kami menggeser kursi dan meja di ruang tamu sebelum memasang gorden. Ruang tamu Alisha memiliki jendela di tiga sisi, jadi cukup menghemat tenaga untuk menggonta-ganti gorden. Rencananya kami akan menggunakan ruang tengah juga karena jendelanya besar, jadi kami bisa menggunakan gorden yang besar pula. Gorden yang kami gunakan berwarna-warni, tidak ada warna yang sama. Dan kebanyakan berwarna lembut. Jadi akan cocok dengan lagunya.
Alisha sedang mendandani Emy sementara aku, Daisy, dan Mey tengah memasang gorden. Roni asyik memasang kamera dan lampu. Om Stef tidak pernah keberatan Roni meminjam kamera dan lampunya.
“Eh yang besar udah dipasang, Mey?” tanya Daisy.
“Belum. Pasangin gih. Tuh yang warna kuning.” Mey menunjuk seonggok kain di atas meja. Daisy mencoba membawa gorden itu ke ruang tengah, tapi karena terlalu berat dia malah jatuh terduduk.
“Siapapun, tolongin gue,” keluhnya. Roni yang berada paling dekat dengan Daisy segera menghampirinya.
Aku baru selesai memasangkan gorden berwarna biru di sisi sebelah kiri. Sedikit lebih lambat dibanding Daisy yang memasang gorden berwarna krem di sisi tengah. Mey susah payah memasang gorden berwarna ungu di sisi sebelah kanan. Rencananya kami akan melakukan dua kali pengambilan gambar agar bisa mengganti gorden. Begitu pula dengan gorden yang besar. Jadi totalnya ada enam gorden kecil dan dua gorden besar.
Aku menatap gorden yang sudah dipasang. Indah, aku tidak pernah melihat gorden seindah ini di jendela rumah. Mama lebih memilih membelikanku baju baru dibanding sehelai gorden bagus. Alasannya klise saja, kami tidak punya uang. Aku begitu terpukau dengan motif gorden yang indah ini, yang berenda di ujungnya, atau yang memiliki glitter pada motifnya.
“Sy, giliran kamu.” Alisha setengah berteriak. Daisy berlari kecil menghampiri Alisha. Sekarang giliran Daisy yang didandani.
“Pasang gorden yang gede udah selesai?” tanyaku pada Daisy.
Daisy menggeleng. “Bantuin Roni, gih.” Aku pun berjalan menghampiri Roni.
Roni menoleh padaku ketika aku berjongkok membantunya membuka ikatan gorden. Kemudian kami membentangkannya sebelum Roni menaiki kursi untuk memasang gorden ke sebilah besi di atas jendela. Kami bekerja tanpa suara. Sampai Roni memintaku mengambil gunting.
“Ada tali yang belum lepas di sini,” ujarnya. Aku menyerahkan gunting padanya. “Eh, Sha. Cewek itu senengnya warna apa sih?” tanyanya sambil masih memasangkan gorden.
Aku mengerutkan kening. “Tergantung ceweknya kayak apa. Cewek feminim, tomboy, biasa aja, apa gimana? Tiap cewek tuh beda-beda.”
“Ng… Cewek biasa aja.”
“Oh, ya beda-beda juga kalo menurut aku. Dia kepribadiannya kayak apa? Biasanya kalau dia periang, dia suka warna cerah kayak gorden ini, kuning. Kalau orangnya kalem, ya warna kesukaannya pasti kalem juga. Kayak krem atau biru muda.” Roni manggut-manggut. “Ngapain kamu nanya kayak gitu?”
“Nggak apa-apa. Nanya aja.”
Aku tersenyum jahil. “Lagi naksir cewek ya?”
“Nggak, enak aja kalo ngomong.”
“Bohong.”
“Suwer!” seru Roni sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Masa’? Ga naksir siapa-siapa tapi nanya yang aneh-aneh kayak gitu.”
Roni mengangkat bahu. “Gue cuma heran aja. Cewek kok seneng yang warna-warni. Kadang malah ada yang suka satu warna aja. Mulai sepatu, baju, tas, sampe mobil pake warna kesukaannya. Nah kalo cowok, palingan putih, item, abu, atau mungkin merah kadang-kadang. Gak aneh-aneh kayak cewek.”
Aku tertawa. “Ya jelas beda lah. Cewek sama cowok tuh beda suasana hatinya. Kalo cewek seneng ngeliat warna-warna yang bisa menenangkan dan menyenangkan hati, kayak hijau, atau pink, atau warna peach. Lah kalo cowok kan hatinya kelam, kalo nggak item ya putih. Kayak warna tv jaman dulu.” Aku terkekeh.
Alisha memanggilku. Aku bergegas menghampirinya. Aku melirik Daisy yang sedang melihat pantulan wajahnya di cermin. Dan Emy sedang belajar berjalan menggunakan sepatu berhak tinggi. Aku tersenyum geli melihatnya.
“Duduk sini,” perintah Alisha. Aku menurut. Alisha adalah make up stylist kami hari ini. Pada saat video yang pertama kami didandani oleh tim perias pengantin sedangkan pada video yang kedua kami hanya mengenakan bedak tipis. Emy bahkan tidak mencuci wajahnya. Tapi kali ini, Alisha ingin melihat kami tampil sempurna sebagai penari latarnya. Kami tidak menolak, walau Emy sedikit ngedumel.
Alisha mengoleskan susu pembersih di wajahku. Lalu membersihkannya dengan kapas. Dia meneteskan cairan penyegar ke kapas, lau mengusapkannya di wajahku. Kemudian Alisha mengoleskan sedikit foundation secara merata. Ketika Alisha sedang memilih warna lipstik, aku meminjam cermin yang tadi dipakai Daisy. Wajahku terlihat putih pucat. Alisha menarik cermin dari tanganku, lantas membubuhkan bedak tabur di wajahku. Kemudian setelah menumpuk lapisan bedak tabur tadi dengan bedak padat, Alisha memoleskan lipstik di bibirku. Warna pink segar. Alisha agak lama memilih warna eyeshadow yang cocok untukku, jadi aku melihat cermin lagi.
“Sini dulu cerminnya,” ujar Alisha. “Sekarang merem.”
Aku mengikuti instruksi Alisha. Aku memejamkan mataku ketika Alisha memulaskan eyeshadow, maskara, dan eyeliner di mataku. Aku membuka mata ketika dia menggerakkan kuas kecil di hidungku, agak lama sebelum dia memberi blush on di pipiku. Alisha mengangsurkan cermin padaku. Rasanya ada orang asing di balik cermin. Aku hampir tidak bisa mengenali diriku sendiri. Ketika dirias pada pernikahan Kak Chris tidak sebagus ini, aku diberi make up natural saja. Tapi sekarang, aku tersenyum melihat parasku yang ternyata tidak terlalu jelek.
“Alis kamu udah lumayan tebel dan bagus, jadi aku gak pake pensil alis.” Aku tidak terlalu mendengar ucapan Alisha. Aku sibuk mematut diri di cermin.
“Kalau gatal jangan digaruk ya, diusap-usap aja. Nah, mana Mey?”
“Mey lagi bantuin Roni di ruang tengah,” jawab Daisy. “Al, bulu mata ini terlalu berat. Gue susah melek,” keluhnya.
“Nggak sampe sekilo, kan? Ntar juga terbiasa. Sekarang panggil Mey. Cepet!” Daisy melangkah ogah-ogahan.
Aku masih menatap cermin. Aku memang jarang berdandan, hanya pada saat tertentu saja. Memakai bedak ke sekolah pun tidak pernah. Karena itu pesan Mama sejak aku SMP.
“Jangan pernah mencoba meletakkan benda asing apapun di wajahmu, Nak. Jika memang tidak diperlukan. Kulitmu yang mulus ini sayang sekali jika terkontaminasi oleh bahan-bahan berbahaya. Kulit kamu bisa memberontak jika terus menerus diracuni. Bisa-bisa wajahmu berubah jadi mengerikan.”
“Mengerikan seperti apa, Ma?” tanyaku penasaran.
Mama terdiam sejenak “Kamu pernah lihat mayat di film-film?” tanyanya. Aku mengangguk. “Akan seperti itulah wajahmu jika setiap hari memakai bedak yang mengandung berbagai bahan kimia. Wajahmu sudah tidak seperti wajahmu lagi. Kamu akan seperti memakai topeng ke mana-mana. Putih, tapi pucat.” Aku bergidik ngeri mendengarnya.
Mama mengusap rambutku perlahan. “Makanya, jagalah kesehatan kulit kamu. Berdandanlah seperlunya. Ingat, se-per-lu-nya. Pada saat-saat tertentu saja. Bersihkan setelah itu dengan segera. Rawat kulit ayu-mu ini setiap hari. Bersihkan kotoran yang menempel setiap malam sebelum tidur. Kamu tahu kenapa? Karena kulit beregenerasi saat jam sepuluh malam sampai jam satu pagi.”
“Regenerasi itu apa, Ma?” tanyaku polos.
Mama tersenyum. “Artinya lapisan kulit kamu yang lama membentuk lapisan kulit yang baru. Kalau lapisan kulit yang lama tertempel kotoran, maka kulit kamu yang baru akan kusam. Nanti jelek dilihatnya.”
Aku manggut manggut sok mengerti. Tapi aku menurut saja pada semua kata Mama. Aku tidak pernah memakai bedak ke sekolah. Mama bilang bedak itu topeng, dan aku tidak mau pakai topeng. Kecuali topeng yang kubuat dari kertas karton saat acara ulang tahun temanku. Aku juga rutin membersihkan wajahku setiap malam, berharap esok pagi lapisan kulit dalamku segara lahir seperti kata Mama. Mama selalu bilang kulit sehat sangat berharga. Jangan inginkan kulit yang putih, tapi usahakanlah kulit yang sehat setiap hari. Kata-kata itu terus terngiang di telingaku hingga saat ini.
“Cepet pake sepatunya, Sha.” Emy membuyarkan lamunanku. “Sebentar lagi kita take. Mey udah hampir beres didandanin.” Ucapannya seperti kru film saja.
Aku melirik ke arah Mey. Pipinya sedang dibubuhkan blush on. Aku lihat matanya sedikit lebih hitam di bagian bawah dan atas. Mungkin Alisha memberi lebh banyak eyeliner agar mata Mey tidak terlihat terlalu sipit.
Aku menatap Alisha. “Kamu gak dandan?” tanyaku.
“Nanti, kalian diambil dulu gambarnya pas lagi nge-dance.” Dia menepuk dahi. “Aduh, Mey. Aku lupa ngasih shading di hidung kamu.”
“Ya udah cepetan, Si Roni udah lumutan nungguin tuh.” Mey mengusap pipi kanannya. Mungkin gatal.
Aku segera memakai sepatu yang dipilihkan oleh Alisha. High heels biru muda dengan hak lima sentimeter, senada dengan gaunku. Emy menggunakan gaun merah dengan sepatu senada. Daisy mengenakan gaun kuning sesuai warna kesukaannya, sedangkan Mey serba ungu. Aku menyesal mengapa dia tidak memakai gaun hijau, jadi kami akan mirip pelangi. Atau gerombolan pemusik reggae? Alisha mengenakan gaun panjang berwarna pink. Sepatunya berwarna perak, tapi tertutup oleh gaunnya.
Emy menggerakkan tangannya memulai pemanasan. Ia menyuruhku dan Daisy mengikuti gerakannya agar otot kami tidak kaku. Mey yang baru selesai dirias beringsut menghampiri kami. Roni sudah stand by di depan kamera, bertanya apakah kami sudah siap. Emy menyuruhnya menunggu sementara kami melatih gerakan selama beberapa menit. Alisha sibuk merias wajahnya sendiri.
Beberapa menit kemudian kami siap. Roni menyalakan kamera dan kami mulai menggerakkan kepala, tangan, badan, dan kaki. Singkatnya seluruh badan, berusaha kompak dan bertenaga mengikuti irama musik. Kami persis penari latar sungguhan. Setelah diulangi tiga kali, kami mengambil gambar bersama Alisha yang bernyanyi di depan kami. Kemudian kami mengganti gordennya lalu mengambil gambar lagi. Setelah itu kami ke ruang tengah. Roni mengambil gambar Alisha yang bernyanyi sendirian selama tiga kali, lalu bersama kami satu kali. Setelah itu kami mengganti gorden yang besar, dan mengambil gambar yang terakhir. Sebenarnya shooting kali ini biasa saja menurutku, hanya Alisha yang komat-kamit lipsync di tengah alunan musik, Sedangkan kami meliuk-liukkan badan seperti sedang senam SKJ. Tapi yang tidak kulupakan hari ini adalah lirik yang dinyanyikan Alisha dengan penuh semangat, jika tidak disebut emosi. Lirik kemarahan seorang wanita yang memberitahu kawannya sesama wanita.
Sudah kubilang jangan terlalu yakin
Mulut lelaki banyak juga tak jujur
Bila sakit hati wanita bisanya nangis
Pada bagian ini kami memeragakan tangan yang mengusap mata.
Sudah kubilang jangan terlalu cinta
Kalau patah hati siapa mau nolong
Seperti langit dan matahari tidak bersatu lagi
Kali ini Alisha bergaya penuh semangat.
Hey Ladies jangan mau dibilang lemah
Kita juga bisa menipu dan menduakan
Bila wanita sudah beraksi dunia hancur
Aku membayangkan Alisha sedang tersenyum jahat saat menanyikan bait tadi.
Hey Ladies sekarang cinta pakai otak
Jangan mau rugi hati juga rugi waktu
Bila dia merayumu ingat semuanya bohong
Pada bagian ini Alisha memainkan sebuah kipas berbulu ayam warna hitam dengan gestur tubuh seperti mau mencekik leher orang.
Memanglah tak semua laki-laki busuk (Alisha jelas-jelas menekankan pada kata ‘busuk’)
Namun Ladies tetaplah harus waspada
Semoga kita semua akhirnya                                  
Mendapatkan cinta yang tulus
Aku selalu bergumam amin di dalam hati setelah Alisha menyanyikan bagian ini.
Kali ini Roni mondar-mandir di antara tiga kamera. Dia tidak punya asisten. Salah dia sendiri, mau repot-repot menyediakan kamera untuk close up wajah Alisha, kamera yang menyorot kami semua, dan kamera yang menyorot kami satu per satu. Dia meminjam dua kamera milik Om Stef dan satu kamera dari klub sinematografi.
Pekerjaan yang paling menyebalkan adalah membereskan semua gorden yang telah kami pakai melipatnya lalu menaruhnya ke dalam kardus. Sisanya kami (Alisha lebih tepatnya) serahkan pada pembantu di rumah. Kami sedang membersihkan riasan kami ketika Alisha sibuk mencari kunci mobilnya. Dia belum menghapus make up-nya.
“Cepetan. Aku traktir makan mie ramen,” ujarnya. Dia meggoyang-goyangkan kunci mobilnya. Kami kontan mempercepat membersihkan riasan kami, sedangkan Roni tergesa-gesa membereskan kamera-kamera yang dibawanya.
Alisha sangat dermawan. Dia tidak jarang mentraktir kami. Pada akhir bulan dia sering kami rayu untuk mentraktir makan siang di kantin. Dia juga ringan tangan meminjamkan uang jika kami membutuhkan. Sebenarnya aku yang paling sering meminjam uangnya. Dan terkadang Alisha menolak ketika aku mengembalikan uangnya.
“Udah dimasukkin ke saku aja. Cuma dua puluh ribu ini.”
Aku nyengir sambil mengucap terima kasih. Uang dua puluh ribu cukup untuk makan sehari menurutku. Tapi Alisha tidak pernah itung-itungan. Baginya, membuat temannya senang atau sedikit terbantu cukup menyenangkan.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

“Brukk.”
Seseorang menghantam bahu kananku. Aku refleks memegang bahuku yang terbentur. Sakit. Aku tidak sadar tasku terjatuh.
“Aduh, sori ya. Gue lagi buru-buru.” Orang itu membungkuk mengambil tasku. Dalam hati mengutuknya. Seenaknya saja menabrak bahuku yang tidak bersalah.
“Eh, nggak apa-apa.” Malah kata itu yang keluar dari mulutku.
Dia berdiri, mengangsurkan tas padaku. “Ini tasnya. Maaf ya nggak sengaja.”
Saat itu lah aku memandang wajahnya. Seorang cowok, lumayan tinggi dan, ehm, cakep. Kulitnya agak gelap namun bersih. Maksudku dia tidak punya jerawat sama sekali di wajahnya. Alisnya tebal dan hidungnya mancung.
“Elo nggak apa-apa?” tanya cowok itu.
“Iya, nggak apa-apa.”
Dia tersenyum. Tunggu. Sepertinya aku tidak asing dengan wajah ini. Mungkin aku pernah bertemu dengannya. Tapi di mana, ya?
“Gue pergi ke sana, ya. Sekali lagi maaf,” ujarnya sambil lalu. Aku menatap punggungnya yang menjauh sambil mengingat-ingat di mana aku pernah bertemu dengannya. Mungkin di sekolah, atau di mal, atau di tv? Ah, tidak mungkin.
“Udah beli tiketnya, Sha?” Emy menghampiriku. Aku menoleh padanya.
“Udah. Yang lain mana?” Emy menunjuk sudut mal. Alisha, Daisy, dan Mey sedang mondar-mandir di dalam toko aksesoris. “Yuk, ke sana.” Aku menggandeng tangan Emy.
“Nggak mau,” ujarnya sambil manyun. “Mereka aja yang dipanggil ke sini.”
Aku mengangkat bahu, maklum dengan sifat Emy yang tidak suka pernak pernik perempuan. Apalagi boneka. Dia selalu bilang boneka adalah monster yang akan menyerangmu ketika kau sedang tidur. Apa aku sudah bilang kalau Emy fobia sekali dengan boneka? Mungkin kedengarannya aneh, tapi memang ada orang yang seperti itu. Percaya atau tidak.
“Kenapa, Sha?” tanya Mey setelah mereka bertiga kupanggil.
“Tiketnya udah aku beli. Yuk ke atas.”
“Tapi tadi aku lagi lihat bando yang lucu-lucu,” keluh Alisha.
“Dua puluh menit lagi filmnya diputar, Al.” Aku menoleh padanya. Wajahnya merengut persis anak kecil yang tidak dibelikan es krim. Aku tersenyum geli.
Kami sedang berada di sebuah mal di kawasan Cihampelas. Cihampelas Walk, atau yang biasa disingkat Ciwalk ini adalah kawasan mal yang tidak hanya memiliki sebuah gedung besar seperti kebanyakan mal di Indonesia. Gedungnya ada beberapa dan di tengah-tengah Ciwalk ini terdapat sebuah panggung besar yang biasa diisi oleh artis ibu kota setiap Sabtu malam. Hari ini hari Sabtu, jadi mungkin nanti malam akan ada penyanyi yang menghibur pengunjung mal.
Kami sedang berjalan melewati panggung itu ketika aku melihat kerumunan orang di atas panggung. Ada yang sedang mengecek sound system, ada yang memperbaiki poster latar belakang panggung dan yang lainnya. Aku berhenti melangkah ketika menangkap sosok itu. Orang yang tadi menabrakku. Dia sedang berbicara dengan berapa laki-laki yang mengenakan pakaian yang seragam. Bukan berarti mereka pakai seragam, tetapi baju mereka persis sama model dan warnanya. Orang yang tadi menabrakku masih memakai jeans dan jaket hitam.
“Kenapa, Sha?” tanya Mey. Aku menoleh padanya dan menunjuk ke arah panggung.
“Tadi abis beli tiket aku ditabrak orang. Tuh orangnya.”
“Yang mana?” Mey celingukan.
“Itu yang di atas panggung. Yang pake jaket item.”
Mey terdiam, kemudian seperti mendapat wangsit, dia berseru senang. “Oohh, orang itu? Gue tau! Itu Ben!”
“Ben? Bentol? Apa Benjol?” tanya Emy dari belakang. Roni dan Daisy mengekor.
“Bukan, tapi Bendeng,” seru Roni.
“Itu mah bandeng.” Emy melirik kembarannya. “Kalo ngelawak tuh yang lucu, jangan garing kayak keripik Maicih,” ujarnya. Roni nyengir.
“Ben siapa, Mey? Kok kamu tahu?”
“Tau lah, emang elo gak punya tv apa? Dia itu personil Monstar!”
“Monstar itu apa?” tanyaku polos.
Mey menghela napas. “Kamu idup di jaman apa sih? Jaman batu? Monstar itu boyband baru dari Bandung. Tuh personil yang lainnya. Mereka ada lima orang,” ujarnya sewot. “Makanya punya tv itu dinyalain, jangan jadi pajangan doang.”
Aku menggarukkan kepala yang tidak gatal. “Tapi kayaknya aku pernah liat dia deh.”
“Ya pernah lah, di tv. Gue juga sering kalo cuma liat di tv.”
“Bukan, bukan di tv. Aku kayaknya pernah ketemu, tapi aku lupa di mana.”
“Terserah deh,” ucap Mey. “Mana Alisha?” tanyanya pada Daisy.
“Ke toilet,” jawab Daisy singkat. Dia melirik jam tangannya. “Ayo cepetan, ntar kita ketinggalan filmnya.” Daisy menarik tanganku. Aku pasrah ketika diseret olehnya.
 Kami menyusuri keramaian dan memasuki gedung yang terdapat studio XXI. Alisha yang berdiri di pintu masuk menggerutu. Perutnya mulas karena memakan mie ramen yang terlalu pedas. Aku kembali menoleh ke arah panggung di belakang kami. Aku yakin pernah bertemu dengannya, di suatu tempat entah di mana. Tapi aku kesal sekali karena tidak bisa mengingat kapan dan di mana aku bertemu dengannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 comments:

Unknown said...

novelnya bagus nee-chan >o<
cerita lanjutannya mana??

Rizka Khairunnisa said...

lanjutannya ada, cuma sudah saya hapus..

Post a Comment