Powered by Blogger.

Tentang Saya

My Photo
Rizka Khairunnisa
View my complete profile

Followers

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

RSS

3 EMY


EMY

 differentherald.wordpress.com



Namanya Emylia Wijaya. Lahir lima menit setelah Roni Wijaya. Mamanya bahagia sekali punya bayi kembar. Terlebih anaknya berbeda jenis kelamin, sehingga mudah dibedakan. Tetapi mama mereka salah besar. Emy hampir tidak bisa dibedakan dengan abangnya, sebab sama sekali tidak berwatak seperti perempuan seperti yang diinginkan mamanya. Ingin sekolah di TK yang sama dengan abangnya, Roni, itu masih wajar. Ingin dibelikan es krim seperti abangnya, masih wajar juga. Tetapi ketika dipakaikan rok, Emy kecil meronta ingin melepaskan diri. Ketika dipakaikan anting juga Emy berteriak seperti akan disembelih. Emy lebih suka pakai kaos dan celana, minta kembaran pula dengan kakaknya.
Sering sekali Emy mengaku kalau dirinya adalah Roni. Mamanya percaya saja. Sampai tiba waktunya mandi sore dan mamanya membuka pakaian Emy yang dikiranya Roni, kemudian terbelalak lalu melepaskan celana Roni. Barulah mama mereka tahu kalau seharian Emy membohonginya. Mamanya hanya bisa menggelengkan kepala setiap melihat kelakuan putri bungsunya. Kalau Roni sedang bermain gundu, Emy ikut. Roni bermain layangan, Emy ikut. Emy selalu menolak jika diajak bermain boneka atau masak-masakan oleh Kak Chris.
Sampai beranjak dewasa, rambut Emy selalu cepak. Kalau tidak memakai seragam, Emy pasti dikira laki-laki. Roni tidak pernah merasa itu sebagai masalah, dia senang-senang saja ada yang menemaninya bermain. Semasa SD teman sekolah dan teman bermain Emy ya teman-teman Roni yang semuanya laki-laki. Barulah ketika SMP Emy sedikit berubah setelah mengenal aku, Alisha, Mey, dan Daisy. Awalnya kami ditempatkan dalam sebuah kelompok kecil drama bahasa Indonesia saat masih kelas delapan. Karena persiapan drama yang cukup lama dan latihannya yang sering, jadilah kami sering bertemu, mengobrol, dan bermain bersama. Alisha yang saat itu sudah terlihat feminim menyarankan Emy agar memanjangkan rambutnya supaya terlihat lebih cantik. Tidak perlu panjang-panjang, sebahu juga cukup. Emy menurut. Tapi terkadang jika musim kemarau datang dan sering mengeluh kegerahan, Emy akan memotong rambut hingga cepak kembali. Kemudian dibiarkan memanjang seiring dengan waktu hingga musim kemarau berikutnya. Kami tidak melarangnya. Yah, tidak ada yang bisa melarangnya, bahkan mamanya pun tidak.
Emy penggila game. Tapi dia juga punya hobi lain. Sejak menonton boyband N Sync ketika SD di tv, Emy terobsesi dengan dance. Memaksa mamanya mendaftarkan dirinya ikut salah satu sekolah dance di Bandung. Ketika SMP sekolah dance-nya berhenti, karena Emy terlalu sibuk dengan game sejak diperkenalkan oleh abangnya. Namun sampai sekarang, jika ada musik mengalun, Emy akan memejamkan mata dan menggerakkan badan secara spontan. Ketika masuk SMA, dia berencana masuk sekolah dance lagi, tetapi dilarang papanya karena saat ini biaya sekolah dance tidak murah. Meskipun begitu, Emy sering berlatih dengan teman sekolah dance-nya dulu, mempelajari gerakan-gerakan baru. Emy juga menyukai tarian tradisional. Tapi aku tidak bilang tari tradisional seperti Jaipong, Pendet, Tari Piring, atau tari-tarian Jawa. Itu terlalu lembut untuk Emy. Emy lebih suka tarian Papua, atau tarian perang dari Kalimantan. Ketika perpisahan SMP, Emy membawakan tari dari Suku Dayak bersama beberapa anak laki-laki. Saat itu hanya kami berlima, Roni dan orang tuanya, guru tari, serta Tuhan, yang tahu kalau yang menari tarian laki-laki itu salah satunya anak perempuan.
Ketika masuk SMA kami memutuskan untuk masuk SMA yang sama, SMA Negeri 2 Bandung. Aku yang bukan orang kaya agak menarik napas ketika teman-teman menyebutkan nama sekolah itu. Bukan kenapa-kenapa, sekolah ini terkenal dengan biayanya yang tinggi, karena gedung dan sistem pendidikannya juga bagus, sampai punya jogging track segala. Tapi waktu itu Mama tidak menolak ketika aku mengatakan bahwa aku ingin masuk SMA itu bersama teman-teman. Saat itu teman-teman menemani kami mengatakannya pada Mama.
“Jangan kuatir, Tante. Titipin aja Rasha sama saya, dijamin aman dan terkendali,” ujar Emy sambil terkekeh. Mama hanya menanggapinya dengan tersenyum. Aku mendengus mendengar perkataan Emy. Bagaimana bisa aman dan terkendali? Yang dititipi saja tidak pernah terkendali.
Emy adalah orang yang humoris. Walau sering celetuk seenaknya, Emy selalu bisa membuatku tertawa. Termasuk ketika aku ditinggal pergi selamanya oleh Mama. Emy menepuk bahuku kencang.
“Udah, jangan nangis. Kan waktu mau masuk SMA, gue pernah bilang sama mama elo. ‘Titipin aja Rasha sama saya, dijamin aman dan terkendali’.” Emy menepuk dadanya memasang tampang sok serius, lalu terkekeh. Aku yang sedang menangis kontan tertawa geli melihat wajahnya yang aneh. Emy selalu bisa membuatku tertawa saat aku bersedih sekalipun.
Seperti saat ini, ketika kami mendapat orderan baru, Toko Lampu Kambing. Emy melirikku dan berbicara serius.
“Aku ada ide, Sha.”
“Apa? Pakai kostum kambing terus bawa-bawa lampu, hah? Itu norak tau.” Aku kembali fokus pada soal Matematika di depanku.
“Bukan, dengerin dulu.” Emy menjauhkan buku latihan Matematikaku. Aku menghela napas. Malas.
“Apa?” tanyaku cepat.
“Merem dulu.” Dengan malas aku memejamkan mata. “Bayangin di suatu tempat, di malam hari, di sebuah tempat penjagalan hewan yang sempit dan dingin…”
“Hah? Apaan tuh?” Aku membuka mata.
“Ssssttt.. Dengerin dulu.” Emy meletakkan telapak tangannya di mataku, menyuruhku merem lagi. “Saat penyembelihan, kemudian tukang jagal merobek perut seekor kambing, sesuatu yang luar biasa terjadi…”
“Apa?” potongku.
“Ih, diem dulu.” Dia kemudian melanjutkan. “Ketika tukang jagal merobek perut si kambing, muncul cahaya yang sangat menyilaukan, menerangi seluruh ruangan yang semula remang-remang, menjadi terang benderang!” Emy sangat bersemangat. Aku mengernyitkan dahi. Apanya yang luar biasa? “Kamu tahu cahaya itu berasal dari mana, Rasha?” Aku menggeleng, masih menutup mata. “Cahaya itu berasal dari lampu dalam perut kambing tersebut!”
Aku mendengus menahan tawa, tapi tidak tertahankan. Aku tertawa keras. “Hah? Jadi si kambing makan lampu? Kok bisa nyala? Kan gak ada kabelnya.” Aku masih tertawa. Emy hanya nyengir.
“Namanya juga iklan, Sha,” katanya garuk-garuk kepala. “Eh, elo udah ada ide?”
Aku menghapus air mata saking puasnya aku tertawa. Tidak habis pikir dari mana Emy mendapat ide lampu dalam perut kambing. Memangnya Kambing Lumping? Sebangsa Kuda Lumping saja, makan lampu.
“Belom, My. Besok lagi aja deh, aku belum ngerjain Matematika nih. Emang kamu udah?”
Emy nyengir.” Udah dong.”
“Bohong.”
“Serius, dikerjain sama Roni.”
“Ih curang, soal sebanyak gitu masa dia yang ngerjain?”
“Curang apanya? Gantian aku yang ngerjani tugas bahasa Inggris punya dia. Banyak mana, Matematika apa bahasa Inggris?” Aku hanya meringis. Mengerjakan tiga puluh soal trigonometri tidak sebanding dengan menulis resensi buku biografi dalam bahasa Inggris. Tidak perlu disebutkan berapa halaman yang harus kami tulis. Bu Rani, guru bahasa Inggris kami memang terkenal hobi memberi kami tugas menulis yang sangat banyak seperti membuat novel.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

Hari ini adalah jadwal kami membuat persiapan untuk video baru sepulang sekolah, di rumahku di gang sempit sekitar Setiabudhi. Mey berlagak seperti businesswoman, membawa sebuah notes kecil, mencatat apa yang perlu dicatat. Buku saktinya tidak dibawa. Sudah habis, dia beralasan. Alisha membawa katalog butik mamanya, Daisy membawa CD lagu, dan Emy membawa laptop seperti biasa, bermain game. Roni sang sutradara merangkap cameraman merangkap juga jadi video editor belum muncul karena harus bekumpul dengan anggota klub sinematografi lainnya. Aku tidak membawa apa-apa. Untuk apa? Ini rumahku. Tinggal ambil saja barang yang diperlukan.
Mey berdeham. Memulai rapat hari ini. “Rasha, apa tema kita kali ini?” tanyanya langsung padaku.
“Eh? Mmm, romantic lights,” jawabku. Mey mengerutkan kening.
“Kok nggak ada kambing-kambingnya?” tanya Emy.
“Buat apa, Emy? Kita bukan promosi buat Idul Adha,” ujar Alisha. Emy manyun.
“Coba jelasin.” Mey membuka notes miliknya.
“Jadi, nanti kita bakal pakai banyak lampu. Lampu itu digantungin di kayu melintang jadi menerangi kita. Kita bisa pakai lampu lain selain yang itu, kayak lampu studio punya Om Stef. Tapi lampu yang digantung harus banyak. Sangat banyak. Soalnya kita bakal shooting malem.”
“Hmm, oke. Terus?” Mey sibuk mencatat.
Aku menghela napas kemudian melanjutkan. “Karena ini romantis, kita buat formasi lampu berbentuk hati di tanah, terus ada pasangan di dalamnya. Jadi kita perlu model.”
“Alisha aja,” ujar Mey pendek.
“Heh?” Alisha terkejut.
“Sama Kak Ari,” ledek Emy. Pipi Alisha merah lagi. Karena kulitnya putih seperti susu, kalau dia malu pipinya pasti merah.
“Kamu beneran suka sama Kak Ari?” tanya Daisy menyelidik.
Alisha tersipu. “Mmm, dari dulu sih, tapi cuma kagum doang,”  jawabnya polos.
“Eh? Sejak kapan?” tanyaku.
“Sejak dia menang lomba film pendek tahun kemarin,” jawabnya polos lagi.
“Oke, sama Kak Ari aja. Tampangnya juga lumayan dibanding Roni.” Mey masih sibuk mencatat.
“Eh? Beneran?” tanya Alisha. Kaget sekaligus senang.
Mey mengangkat bahu. “Yah, kalo Roni berhasil ngebujuk Kak Ari. Kalo nggak, kepaksa elo sama Roni. Jadi ntar ada yang gantiin Roni pegang kamera.”
Alisha manyun. Mana mau dia. Emy yang melihat Alisha manyun malah tergelak. “Tenang aja, Kak Ari pasti mau kok. Justru abang gue yang gak bakal mau sama elo. Bukan tipe dia elo mah.”
“Emang Roni tipenya kayak apa?” tanyaku serius.
“Yang pake seragam putih merah!” katanya masih tertawa.
Aku ikut tertawa. Dasar Emy usil.
“Daisy, lagu?” Mey menunjuk Daisy.
“Mmmm gue pengen coba yang agak cepet irama lagunya. Jadi gue nyaranin Taylor Swift yang You Belong with Me.” Daisy menyerahkan selembar kertas. “Ini lirik lagunya.”
“Iramanya cepet, ya?” tanya Emy pada Daisy. Daisy mengangguk. “Asik, berarti bisa ada dance-nya dong. Mey, gue yang bikin koreo-nya!” seru Emy. Mey melirik Emy sambil mengangguk.
Mey membaca lirik yang diberikan Daisy diikuti Alisha. Alisha menunjuk-nunjuk tulisan yang ada di kertas.
“Di sini kan ada kata-kata high heels sama short skirt-nya, aku bisa siapin. Kali ini kita pakai baju casual aja,” ujar Alisha. Mey manggut-manggut. Daisy juga.
Aku seperti ingat sesuatu. “Eh, kalian tau video klip aslinya kan?” tanyaku. Semua menoleh kecuali Emy, lalu mengangguk. “Kalo nggak salah di video klip itu asalnya si Taylor Swift itu penampilannya jelek, terus ngebanding-bandingin sama cewek lain. Tapi akhirnya si Taylor jadi cantik, terus dansa bareng model cowok.”
“Iya aku tahu,” ujar Alisha.
“Nah, kamu yang jadi Taylor Swift-nya,” kataku mantap. “Kan kamu bilang kita semua pake baju kasual, kamu nanti pake sneaker juga, lengkap sama kacamata gede.” Aku terkekeh. “Tapi nantinya kamu jadi cantik, terus pake gaun. Dansa sama Kak Ari di atas lampu bentuk hati yang aku bilang.”
“Oh, sooooo sweeeeeet.” Bukan suara Alisha, melainkan Emy yang mengejek Alisha. Ketika diceritakan Kak Chris tentang kisah cintanya bersama sang suami waktu itu, Alisha berkata so sweet dengan berisik.
Alisha menelan ludah. “Ng…”
“Ide bagus. Al, elo harus mau.” Belum sempat Alisha mengatakan setuju atau tidak, Mey sudah main tunjuk saja.
“Tapi, Mey. Aku kan malu,” Alisha merajuk.
“Udah gak apa-apa, Al. Kan biar cepet jadian,” ujar Emy.
Sepertinya hari itu tak terhitung berapa kali Alisha bersemu merah pipinya. Oh iya, aku lupa memberitahu satu hal. Emy paling senang meledek orang. Mulai dari yang bikin dongkol seperti yang dilakukannya setiap hari pada Roni, atau membuat tersipu seperti pada Alisha hari ini.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

Walaupun Emy sudah bersemangat untuk membuat gerakan koreografi kali ini, ternyata nasib berkata lain. Boro-boro membuat koreo, bisa bernapas lega pun tidak. Sekarang sedang musim-musimnya tugas karena menjelang ujian tengah semester. Aku tidak yakin Emy bisa menyuguhkan gerakan tari yang bisa kami pelajari nanti. Mey juga memutuskan untuk persiapan lain nanti-nanti saja, sementara fokus pada ujian dulu.
Setelah selesai ujian tengah semester mata pelajaran terakhir, kami langsung tancap gas dari sekolah.
“Eh, Mey. Nggak ke rumah Rasha?” tanya Alisha ketika Mey menyetop angkot yang berbeda dari angkot yang biasa kami gunakan untuk pergi ke rumahku.
Mey menggeleng. “Nggak, kita latihan nyanyi di rumah Daisy,” jawab Mey.
“Kenapa di rumah Daisy? Di rumah Rasha kan bisa.”
“Di rumah Rasha nggak ada piano, Cantik. Kita mau latihan pake apa? Sapu?” Mey berkata ketus. “Lagian di rumah Daisy ada yang ngelatih kita. Jadi gak usah bolak-balik ke Bu Sri lagi.”
Mulut Alisha membulat. Singkat kata, kami sudah sampai di rumah Daisy setelah bermenit-menit macet. Biasalah, Bandung. Sudah tidak seperti Bandung yang dulu, asri dan jarang sekali macet. Rasanya sekarang Bandung sudah seperti Jakarta saja. Roni tidak ikut, apalagi kalau bukan klub sinematografi. Lagipula dia sedang menjalankan misi rahasia yang ditugaskan oleh Mey. Membujuk Kak Ari agar mau menjadi model.
Daisy membuka pintu depan rumahnya. Tidak dikunci. Dia berteriak memanggil mamanya lalu berlari ke dapur. Kami duduk di sofa ruang tamu tanpa disuruh. Alisha mengibaskan tangannya kegerahan. Sementara Emy sibuk memperhatikan detail setiap ruangan. Aku meneguk air mineral bekalku. Daisy muncul seketika dengan lima gelas sirup dingin. Kami melonjak senang. Setelah berpanas-panas ria dan bermacet-acet ria di siang bolong, air dingin adalah surga dunia. Jangan bilang kalau aku berlebihan. Memang begitu kenyataannya.
“Selamat datang, Anak-anak,” ujar seseorang di ambang pintu. Kami semua menoleh. Seorang wanita paruh baya dengan tinggi badan yang lumayan. Wajahnya cantik, khas perempuan Jawa. Walau terselip beberapa uban di rambutnya, sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Ternyata mamanya Daisy. Wanita itu tersenyum.
“Sekarang mamanya Daisy yang ngelatih kita.” Mey menaruh gelasnya yang kosong. Mamanya Daisy duduk di sofa sebelah putrinya.
“Maaf ya, waktu kemarin gak bisa bantu kalian. Tante repot mengurus adiknya Daisy,” ujar Tante Mona lembut.
“Oke, sekarang kita latihan, Ma,” seru Daisy.
“Kakak,” begitu Daisy dipanggil oleh mamanya. “Nggak kasihan sama temen-temen kamu? Orang baru nyampe, mereka kan masih capek. Sekarang sudah siang, kita makan dulu. Biar ada tenaga buat nyanyi nanti.” Mama Daisy beranjak dari sofa. “Ayo, ikut Tante ke dapur. Tante udah masak banyak buat kalian.”
Benar saja. Tante Mona memasakkan banyak sekali makanan untuk kami. Beliau meminta kami untuk menghabiskan semua masakannya. Daisy mendesis pada kami agar benar-benar menghabiskan semuanya. Walau kami tidak mengerti apa alasannya, kami menurut saja. Kecuali Alisha yang mengeluh kalau dia nanti gendut jika makan terlalu banyak.
Selesai makan, kami mulai berlatih dengan Tante Mona di ruang tengah. Ruangan ini menyatu dengan ruang tamu. Ada sebuah piano klasik berwarna hitam di pinggir ruangan. Tante Mona yang akan memainkan piano untuk mengiringi kami.
“Hmm, Taylor Swift, ya? Lagu country?” tanyanya. Daisy mengangguk. Aku yang hanya tahu jenis musik pop dan rock hanya mengerutkan kening tidak mengerti. “Siap-siap, ya,” ujar Tante Mona duduk di kursi depan piano.
Sekarang aku mengerti alasan Daisy menyuruh kami untuk menghabiskan makanan. Latihan kali ini berbeda dengan latihan bersama Bu Sri. Jika guru Kesenian kami itu mengoceh soal penghayatan lagu, lain halnya dengan tante Mona. Hilanglah sudah sosok lembut mamanya Daisy itu ketika latihan. Kami disuruh latihan tangga nada hingga mencapai oktaf tertinggi yang bisa kami capai. Mey paling pendek. Dia dimarahi. Dia dimarahi lagi soal konsistensi mengambil nada. Belum lagi Emy. Tante Mona memarahinya soal dinamika nada. Atau Alisha yang dimarahi soal passion. Entah apa arti istilah itu semua. Apalagi aku. Beliau terus menyuruhku menyanyikan lirik bagianku dengan kecepatan dua kali lebih cepat, mengomeliku soal tempo, tempo, dan tempo. Jangan tanya Daisy. Walaupun dia anak Tante Mona, dia yang paling sering dimarahi. Karena setiap salah satu dari kami dimarahi, nama Daisy selalu disebut.
“Dan kamu, Kakak,” ujar Tante Mona. “Jangan ceroboh sampai fals seperti Mey.” Atau, “Tidak ada kompromi untuk kamu soal dinamika. Jangan teledor seperti Emy.” Atau, “Kalau kamu nyanyinya loyo seperti Alisha, kamu bukan anak Mama, Daisy.” Atau yang ini, “Kamu harus punya rentang oktaf yang tinggi. Tapi jangan seperti Rasha yang tercekik lehernya.”
Sekarang aku juga tahu mengapa Daisy lebih suka bermain musik daripada bernyanyi. Tidak sia-sia kami makan banyak. Tenaga kami langsung terkuras habis dalam tiga jam selama latihan. Apalagi Alisha, dia hanya makan sedikit. Makanya dia bernyanyi sangat loyo.
“Oke, kalian nyanyikan lagu ini terakhir kali. Dan Alisha, kamu jangan loyo kali ini. Ingat, keluarkan passion kamu!” Alisha hanya manyun.
Latihan selesai. Kami menuju kamar Daisy dan langsung rebahan. Kasur Daisy sangat besar, jadi muat untuk kami berlima. Alisha mengeluh lapar. Daisy mengambilkannya biskuit dan minuman untuk kami semua. Tiba-tiba Emy berdiri dari tidurnya.
“Gue udah dapet gerakan!” serunya.
Kami meliriknya. “Kapan bikinnya? Kan kita ujian dari minggu kemarin,” ujarku.
Emy nyengir, “Rahasia.” Kemudian dia menggaruk kepala. “Tapi cuma sempet bikin buat reff-nya aja.” Emy menghela napas.
“Nggak apa-apa,” ujar Mey. “Coba liat.”
Emy sudah menyetel lagu dari handphone-nya dan bersiap. Tapi pandanganku kabur ketika lagu dimulai. Mataku berat. Semalam aku begadang menghapalkan nama spesies karena hari ini ujian Biologi. Apalagi sejak subuh aku membereskan rumah sebelum berangkat ujian. Ditambah dengan ujian dan latihan yang menguras tenaga, aku mengantuk kelelahan. Ketika lagu sudah akan memasuki reffrain, aku sudah terlelap.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Bangun dari rebahan di atas tanah, menatap keributan di depanku. Lagi-lagi Emy cerewet mengatai gerakan Alisha seperti ibu-ibu sedang senam. Roni yang sedang mengganti rol film menyeringai. Kak Ari yang tengah menyusun lampu tersenyum geli. Mey dan Daisy di kiri-kananku terbahak. Aku melirik Alisha, pipinya merah. Aku hanya tersenyum sambil menarik jaket lebih rapat.
Malam ini kami sedang berada di halaman belakang rumah Kak Ari, mengambil gambar video iklan untuk toko lampu. Kami baru selesai mengambil gambar dengan menyanyikan bagian sendiri-sendiri. Sebentar lagi kami akan mengambil gambar saat kami dance di bagian reffrain. Oh ya, aku lupa memberitahu, proses rekaman kami berjalan mengerikan. Tante Mona mengawasi, selain papanya Daisy yang menjadi operator. Berulang-ulang kami rekaman karena hasilnya tidak sesuai keinginan. Bukan keinginan kami, tapi Tante Mona. Tempo-nya yang kedodoran lah, harmonisasi suaranya yang jelek lah, dan lain sebagainya. Tante Mona cocok untuk menjadi juri Indonesian Idol sepertinya, omelannya terkadang membuatku bosan. Ayolah, ini kan hanya untuk iklan. Bukan rekaman penyanyi sungguhan.
Emy menyetel lagi lagu Taylor Swift. Halaman belakang rumah Kak Ari sangat luas, jadi Emy harus berjalan agak jauh menuju tape recorder, karena colokannya juga pendek. Kak Ari tidak punya terminal colokan yang kabelnya panjang.
“Ulangi lagi!” seru Emy dari jauh.
Alisha masih manyun. “Kenapa yang lain nggak latihan juga?”
“Soalnya mereka udah lancar.” Emy berlari menuju tempatku duduk. “Ayo, bentar lagi reff.”
Aku memandang Alisha yang meliukkan badannya sesuai yang diarahkan oleh Emy. Kami berlatih koreografi sekitar seminggu. Menghapal gerakannya hanya dua hari, tapi membuat gerakan kami kompak butuh waktu lebih lama. Terlebih Alisha, sampai sekarang gerakannya belum sempurna. Menurut Emy.
“Segini lampunya cukup, Sha?” tanya Kak Ari padaku. Aku beranjak berdiri. Memeriksa susunan lampu yang dibentuk menjadi hati oleh Kak Ari. Roni sibuk mengurusi kamera, dan kami perempuan takut dengan listrik. Jadilah Kak Ari mengurusi lighting merangkap model laki-laki.
Aku menatap susunan lampu neon kecil lima belas watt di atas tanah sambil berjingkat menghindari kabel. “Cukup, Kak. Bisa dinyalain?” Kak Ari mengangguk kemudian berlari menuju sakelar.
Ting! Lampu di depanku menyala. Indah sekali. Aku tersenyum senang. “Cukup, Kak!” seruku. Lampu mati lagi. Kak Ari berlari lagi menghampiriku. Aku meliriknya. “Pakai berapa lampu, Kak?”
Kak Ari mengusap peluh di dahi. “Yang ini dua puluh. Kalo yang digantung ada tiga puluh.” Kak Ari menunjuk lampu-lampu yang digantung di sebilah bambu. Kabelnya sengaja dijulurkan ke bawah. Ada yang panjang, ada yang lebih pendek.
“Yang ini gak dihitung?” seru Roni agak jauh dari kami.
“Itu kan lampunya Om Stef, Ron. Maksud aku lampu dari tokonya,” aku balas berteriak.
“Kalo udah beres lampunya dibawa ke mana, Sha?” tanya Daisy berjalan menghampiriku.
Aku mengangkat bahu. “Tanya Mey.”
Mey yang berjalan di belakang Daisy mendesah. “Kata kokoh yang punya toko kita bawa aja. Buat persediaan di rumah.”
Aku mengerutkan dahi. “Sebanyak ini? Sama yang di dus itu juga? Total semuanya tujuh puluh lampu, Mey.”
“Biarin lah, kita bagi tujuh aja, jadi masing-masing sepuluh lampu.” Mey terkekeh.
“Trus tokonya bayar berapa ke kita?”
Mey terdiam sebelum menjawab. “Mmm, rahasia.”
“Wah, jangan gitu dong,” ujar Daisy sewot. “Jangan-jangan ntar uangnya dimakan sama elo sendiri.”
Mey menatap galak Daisy. “Nggak lah!” bantahnya. “Lagian ada ceknya kok. Buat apa gue makan uangnya sendiri. Uang gak bisa dimakan tau.”
Aku mencoba melerai. “Udah lah, yang penting kita dapet komisi. Percaya aja sama Mey, Sy. Dia nggak bakal korupsi kayak oknum anggota DPR,” ujarku pada Daisy. Daisy hanya mengangkat bahu.
“Woi, kameranya udah siap!” Roni berteriak di bawah lampu-lampu yang digantung. “Are you ready, girls?” Dia terkekeh. Kami bergegas berlari mendekatinya.
Ketika menghampiri Roni, Mey membisikkan sesuatu di telingaku. “Kamu mau tahu kita dibayar berapa?” Aku mengangguk. Mey menyebutkan angka. Aku terbelalak.
“Serius?” tanyaku.
Mey nyengir. “Koh Acing gak pernah main-main.” Mey kembali berlari menghampiri Roni.
Langkahku terhenti. Aku menelan ludah. Uang sebanyak itu? Tidak mungkin. Tapi Mey bilang si pemilik toko tidak pernah main-main. Berarti iklan kami tidak boleh mengecewakannya. Dia tidak boleh menyesal membeli jasa kami dengan harga yang sangat tinggi. Cukup untuk membeli laptop bagi kami bertujuh.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

Aku melirik jam. Sepuluh menit lagi bel tanda istirahat selesai berbunyi. Tapi teman-temanku belum pulang dari kantin. Aku duduk sendirian di kelas. Tidak punya uang, berarti tidak jajan. Lagipula aku membawa sedikit bekal buatanku tadi subuh. Nasi goreng keasinan. Emy menertawakanku dan berkata kalau aku ingin menikah seperti takhayul orang Sunda. Aku tidak peduli. Aku tidak punya gula di rumah, jadi hanya asin saja rasanya.
Aku melirik bangku Roni di belakangku. Dia bilang videonya sudah jadi. Padahal belum seminggu sejak shooting. Berarti dia semakin ahli sekarang. Tidak sia-sia dia masuk klub sinematografi.
Aku berjalan ke bangku Roni, mengambil laptopnya dari laci. Tadi pagi Roni bilang kalau mau menonton videonya lihat saja di laptop miliknya. Aku baru sempat melihat sekarang, sedari tadi aku menyelesaikan PR Fisika yang harus dikumpulkan besok. Lima puluh soal.
Aku membuka layar laptop Roni, lalu menekan tombol power. Setelah selesai booting dan Windows terbuka, aku mencari-cari file video yang dimaksud Roni. Beberapa detik aku mencari. Ketemu. Di dalam folder DREAM di drive D. Aku mengklik icon video itu tidak sabar. Penasaran hasilnya seperti apa.
Video dimulai. Intro musik mengalun. Tulisan muncul di layar.
You Belong with Me by DREAM
Tampak Daisy mengenakan kemeja kotak-kotak hitam, duduk di kursi di bawah lampu yang menggantung. Di pangkuannya terdapat gitar.
You’re on the phone with your girlfriend
She’s upset
She’s going off about something that you said
She doesn’t get your humour like I do
Gantian Mey. Di memakai kemeja putih polos, dengan kaus oblong bergambar kartun di dalam kemejanya. Masih di bawah lampu gantung.
I’m in the room
It’s a typical Tuesday night
I’m listening to the kind of music she doesn’t like
She’ll never know your story like I do
Kini Alisha, diambil gambarnya seluruh badan. Dia memakai kaus oblong putih. Lengkap dengan sepatu kets dan kacamata sebesar jengkol.
But she wears short skirts
Kamera menyorot sebuah boneka mannequin yang memakai rok mini. Lalu berganti Alisha lagi.
I wear t-shirts
Alisha menarik kerah kausnya.
She’s cheer captain and I’m on the bleachers
Dreaming ‘bout the day
When you wake up and find
That what you’re looking for
Has been here the whole time
Alisha meloncat-loncat mengikuti musik. Berganti gambar kami berlima dengan Emy dengan penampilan aslinya, kemeja polos hitam, berada paling depan meliuk-liukkan badan memperagakan dance. Aku setuju dengan Emy, kami mirip ibu-ibu sedang senam. Tapi lebih kompak dan enerjik.
If you could see that I’m the one who understands you
Been here all along so why can’t you see
Kamera menyoroti Emy yang berdiri di bawah lampu, menunjuk-nunjuk matanya dari samping.
You belong with me
Mengelus dadanya.
You belong with me
Intro lagi. Alunan gitar musik country cukup menyenangkan ternyata. Sekarang giliranku. Sambil mengenakan kemeja hitam bergaris putih dengan lengan digulung aku berjalan sambil memasukkan jari ke dalam saku. Kamera menyorotku dari pinggir.
Walk in the street with you and your worn-out jeans
I can’t help thinking this is how it ought to be
Laughing on the park bench thinkin’ to my self
Hey, isn’t this easy?
Sekarang Mey. Duduk manis di kursi yang tadi diduduki Daisy.
And you’ve got a smile that could light-up this whole town
I haven’t seen it in a while since she brought you down
You say you find I know you  better than that
Hey, whatcha doing with the girl like that?
Alisha lagi.
She wears high heels
Terlihat boneka mannequin lagi dengan sepatu hak tinggi sepuluh senti. Beralih ke Alisha lagi, menunjuk-nunjuk sepatu kets yang digunakannya.
I wear sneakers
She’s cheers captain and I’m on the bleachers
Dreaming ‘bout the day
When you wake up and find
That what you’re looking for
Has been here the whole time
Alisha meloncat-loncat lagi. Giliran Emy lagi menggerakkan badan. Masih paling depan.
If you could see that I’m the one who understands you
Been here all along so why can’t you see
You belong with me
Sekarang Daisy mengambil posisi Emy. Gambar bergantian dengan dirinya yang masih memegang gitar.
Standing by and waitin’ at your back door
All this time how could you not know
Baby
You belong with me
You belong with me
Intro lagi. Kami masih dance. Sekarang giliranku. Lirik yang dinyanyikan paling cepat. Aku agak sebal Daisy menyerahkan bagian ini padaku.
I remember you drivin’ to my house
In the middle of the night
I’m the one who makes you laugh
When you know you’re about to cry
I know your favourite song
And you tell me about your dreams
I think I know where you belong
I think I know it’s with me
Alisha lagi. Sekarang dia mengenakan gaun panjang berwarna pink. Dandanannya natural, tapi sangat cantik.
If you could see that I’m the one who understands you
Been here all along so why can’t you see
You belong with me
Sekarang Mey. Dia yang dance paling depan sekarang.
Standing by and waitin’ at your back door
All this time how could you not know
Baby
You belong with me
You belong with me
Intro lagi. Giliranku. Improvisasi.
You belong with me
Sekarang scene yang paling ditunggu-tunggu. Alisha berjalan mendekati lampu bentuk hati. Kak Ari ada di dalam.
Have you ever thought just maybe
You belong with me
Alisha sudah ada di dalam hati lampu. Dia dan Kak Ari bertatapan.
You belong with me
Lagu selesai. Tapi videonya belum. Kamera menyoroti Alisha (yang pipinya seperti kepiting rebus) bertatapan dengan Kak Ari yang tersenyum lebar. Kemudian perlahan kamera bergerak ke atas menyoroti langit malam, ke arah bintang-bintang. Muncul tulisan dengan efek kerlap-kerlip.
Fully supported by
Tulisan mengabur, menghilang. Berganti tulisan yang baru.
ALISHA Boutique
and RETRY Recording Studio
Sebentar saja, lalu mengabur dan menghilang. Berganti tulisan yang lebih besar, lebih terang.
LAMB’S LAMP SHOP
Phone (022) 5471234
Agak lama, sekitar lima detik tulisan itu menyala. Hingga akhirnya berkedip-kedip lalu mati seperti lampu yang putus kabelnya. Aku mengerutkan dahi. Sejak kapan toko lampunya berganti nama?
Bel tanda masuk berdering. Aku menutup Windows dan mematikan laptop. Anak-anak sekelas bergantian masuk ke dalam. Kemudian teman-temanku masuk lalu duduk di bangku masing-masing. Aku pindah ke bangkuku. Aku memutar kepala ke arah bangku Roni dan Emy di belakangku. Mereka tertawa entah sedang membicarakan apa.
“Ron!” seruku. “Sejak kapan Toko Kambing ganti nama?”
Roni mengangkat alis. “Sejak hari ini.” Dia melirik kembarannya.
Emy cengengesan. “Gue yang bikin.” Dia tertawa. “Kata Mey si Kokoh setuju kok.”
“Tapi kenapa diganti?”
“Biar keren, Sha.” Roni yang menjawab. “Lebih menarik mana? Toko Lampu Kambing ataaaaaauuuuu…” Dia tidak melanjutkan.
“Lamb’s Lamp Shop!” seru Emy. Mereka berdua terbahak.
Aku mengangkat bahu. Terserah mereka lah. Aku membuka buku Biologi-ku. Di sebelahku Alisha sudah cekatan membaca bukunya, menggoreskan stabilo ungu pada kata-kata yang penting. Aku berpikir sejenak. Bahasa Inggris dari kata kambing bukan lamb, tapi goat. Mereka tidak baca kamus apa?
Aku menggelengkan kepala. Emy itu selain pintar dance dan meledek, dia juga pintar membuat nama. Kemarin Dream untuk menamai kelompok kami. Sekarang Lamb untuk toko milik Koh Acing. Besok apa lagi? Emy, Emy. Mamamu mengidam apa waktu hamil kau? Aku tak habis pikir. Kemudian kembali fokus pada buku Biologiku sebab Bu Juni sudah masuk kelas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment