Powered by Blogger.

Tentang Saya

My Photo
Rizka Khairunnisa
View my complete profile

Followers

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

RSS

2 THE POWER OF KEPEPET

THE POWER OF KEPEPET

boutarief.blogspot.com



Suatu siang di rumahku. Kami berlima sibuk sendiri-sendiri di ruang tengah. Alisha membolak-balik halaman sebuah majalah mode sambil duduk manis di sofa. Rambut panjangnya tergerai sempurna, persis iklan sampo. Sesekali keningnya berkerut jika melihat model pakaian yang aneh. Tetapi lebih sering bergumam “waw” saat melihat gaun-gaun indah. Jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku warna peach menelusuri tips-tips kecantikan dan artikel remaja lainnya. Sementara Daisy di sebelah tekun memetik gitar sambil melirik kertas yang diletakkan di atas sofa, belajar kunci baru. Badannya bersandar pada sofa. Kepalanya yang ditutupi rambut sebahu dijepit sebuah headphone hitam besar, persis yang digunakan penyiar radio. Bibirnya yang mungil menggumamkan lagu Hero milik Mariah Carey.
Mey lain lagi. Dia duduk lesehan di meja, tidak lepas dari kalkulator dan “buku sakti” miliknya sejak sejam yang lalu. Matanya yang sipit menekuni deretan angka dengan banyak angka nol di bukuya. Gadis keturunan Tionghoa itu sibuk menghitung jumlah pengeluarannya bulan ini. Jarinya menggaruk-garuk rambut ekor kudanya yang tidak gatal kemudian kembali menekan tombol kalkulator, menghitung lagi. Emy juga duduk lesehan di meja, asyik bermain game di laptopnya. Terkadang dia mengacak-acak rambut cepaknya yang emang sudah acak-acakan. Game over lagi. Dia mendesah kecewa. Tidak ada suara selain dari game yang dimainkan Emy.
Aku keluar kamar, baru selesai mandi. Kulirik jam dinding. Sudah jam tiga. Mereka masih pakai seragam sejak mereka datang ke rumahku.
“Kalian gak mau mandi?” tanyaku.
“Nggak.Mereka menjawab serempak. Kecuali Daisy yang merem-melek sambil memetik gitar dan kepala bergoyang tak karuan. Seperti mendengar lagu dangdut saja.
Aku mengambil remote di atas tv lalu menghenyakkan badan di sofa di antara Alisha dan Daisy. Kemudian menyalakan tv.
“Sial gue!” gerutu Mey.
“Kenapa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari tv.
“Keuangan gue defisit bulan ini.” Mey menjauhkan buku dan kalkulatornya. Meluruskan kaki.
“Emang dipake apa? Setau aku kamu ngirit banget.”
Mey mendesah. “Irit sih irit, tapi banyak kebutuhan tak terduga. Kemaren beli sepatu lah, beli kado buat Mami lah, beli buku lah. Utang gue belom kebayar.”
“Sejak kapan lo ngutang, Mey?” Emy masih memandang layar laptopnya.
“Sejak uang jajan gue dipotong sama Papi. Disuruh irit gue gara-gara abang gue mau masuk kuliah, uang keluarga dipake buat biaya dia masuk. Gak dipotong uang jajan aja gue udah ngirit, apalagi sekarang.”
“Kamu kan jualan pulsa, Mey.” Alisha menutup majalahnya. Ikut menonton kartun bersamaku.
“Iya, yang beli pulsa kebanyakan pada ngutang. Gue jadi ngutang juga sama counter pulsanya.” Mey meregangkan tangan. “Bokek gue, padahal mau liburan.”
Daisy yang sejak tadi mendengarkan melepas headphone. “Iya ih, gue juga pengen beli CD gak bisa.” Dia meletakkan gitarnya di lantai. “Akhir bulan uang seret, studio rekaman Papa sepi. Padahal gue pengen beli albumnya L~Arc~En~Ciel, gak tiap tahun mereka ngeluarin album.” Daisy mendesah.
“El apa?” tanyaku bingung. Makanan macam apa itu?
“Laruku, band Jepang favorit gue.” Daisy manyun. “Masa lo gak tau, Sha?” Aku cuma nyengir.
“Liburan kelabu,” ujar Alisha. “Butik Mama aku juga sepi. Liburan malah disuruh bantu nungguin.”
“Emang Mama lo ke mana, Al?” Mey menguap, bosan.
“Ke Jakarta, bolak-balik promosiin butik ke temen kerja Papa.”
Aku ikut mendesah. “Aku juga liburan tetep kerja. Kemungkinan lembur malah. Buat beli buku semester depan.” Aku tertawa hambar.
Semua melirik ke arah Emy. Sepertinya hanya Emy yang tidak punya masalah liburan kali ini.
“Apa?” tanya Emy galak. “Gue juga bete kali. Kakak gue mau nikah bentar lagi.”
Aku tertawa. “Itu sih kita udah tau. Terus?”
“Terus semua orang riweuh, mesen baju pengantin lah, ngehubungin gereja lah, katering lah. Kawinannya masih lama udah ribet duluan. Gue disuruh ikut bantuin. Ogah gue. Dibayar juga kagak.”
“Si Roni ke mana, My?” tanya Alisha.
“Ke tempat om gue yang punya studio foto, minta bantuan buat dokumentasi nikahan. Sekarang dia jadi asistennya Mama, disuruh ini disuruh itu.” Matanya tidak pernah lepas dari layar laptop.
Pintu depan diketuk. Aku beranjak ke depan. Panjang umur, ternyata Roni. Baru aja diomongin.
“Emy ada, Sha?” Kepala Roni nongol dari pintu.
“Ada, masuk aja.” Aku membukakan pintu lebar-lebar.
Aku dan Roni masuk ke ruang tengah.
“Ngapain lo? Jemput gue?” Emy melirik Roni sekilas.
Roni merebahkan tubuh di sofa yang satunya. “Kagak, numpang istirahat bentar. Capek abis bantuin Om Stef.” Mulut Emy membulat.
“Mau minum, Ron?” Aku beranjak ke dapur.
“Boleh, deh.” Roni nyengir.
Air putih yang kusodorkan pada Roni habis dalam tiga detik.
“Kasian Om Stef, My.” Roni meletakkan gelas di meja.
“Kenapa?” Emy masih terpaku pada laptopnya.
“Om kalian yang punya studio foto itu?” Mey merebut remote tv dari tanganku. Mengganti saluran tv menjadi infotainment. Aku manyun.
“He-eh,” jawab Roni. “Studionya sepi. Pas gue dateng minta tolong buat nanti foto keluarga dia seneng banget. Katanya sebulan ini baru gue doang yang minta foto.”
“Buset, kok bisa gitu?” tanya Daisy.
“Biasalah, namanya juga usaha. Kadang ada ramenya, kadang ada sepinya,” komentar Mey. Maminya pengusaha kue kering, sementara papinya memiliki bengkel mobil. Watak pengusaha sudah menurun padanya.
“Iya, kalah sama studio foto yang di mal-mal. Yang bisa edit-editan background-nya.”
“Kamu nggak coba bantu, Ron?” tanya Alisha sambil merebut remote dari Mey. Dia benci infotainment.
“Bantu gimana? Gue ga gerti yang kayak gituan.”
“Kayak gituan apa?” Aku mengernyit.
“Ya, soal foto atau apalah. Lagian buat ngepromosiin juga gue ga ngerti gimana caranya. Pasang iklan juga kan gak murah.”
Hening sejenak. Alisha mengganti saluran menjadi berita sore. Berita biasa, peristiwa kebakaran di pemukiman padat yang merembet cepat karena rumah sangat rapat tanpa jarak sehingga menghanguskan ratusan rumah. Setelah presenter menyelesaikan membaca berita dan mengatakan akan kembali setelah jeda pariwara, kemudian jeda iklan. Iklan biasa, iklan minuman dingin yang dibintangi oleh seorang penyanyi yang menyanyikan sebuah jingle. Jingle iklan tersebut berasal dari lagu milik penyanyi itu namun diganti liriknya sehingga menjadi jingle iklan dari produk minuman. Secara sepintas memang iklan biasa. Sudah tidak asing jika jingle iklan suatu produk yang mengambil lagu penyanyi atau band terkenal, lalu diganti liriknya dan dibawakan oleh penyanyi atau band asli.
“Brak!” tiba-tiba meja dipukul oleh Mey. Aku terlonjak kaget.
“Apaan sih, Mey? Bikin kaget aja!” bentak Emy sewot. Yang dibentak cengar-cengir. “Argh! Tuh kan game over lagi.” Emy bersungut-sungut.
Mey tersenyum lebar. “Kita bantu Om-nya Roni, yuk!”
Alisha mengangkat alis. “Caranya?”
“Dengerin gue.” Mey mematikan tv, langsung menekan tobol power dari tv-nya. “Emy. Matiin laptop elo. Sekarang.
“Iya, iya. Ini juga mau dimatiin. Udah low-bat.”
“Sini semuanya.” Mey mengisyaratkan kami agar duduk mengelilingi meja. Roni ogah-ogahan turun dari sofa.
“Mau apa, sih?”
“Dengerin gue.” Mey memasang tampang serius. Telunjuknya menikam Roni. “Studio Om elo lagi sepi kan?” Roni mengangguk. “Bisa video shooting juga?” Roni mengangguk lagi.
“Elo mau bantuin Om Stef? Gimana caranya?” tanya Emy.
“Sebentar.” Mey menatap Emy. “Kakak elo mau nikah, kan?”
“He-eh,” jawab Emy.
“Butik Mama elo lagi sepi, kan?” tanya Mey pada Alisha. Yang ditanya mengangguk. “Elo, studio rekaman Papa elo yang biasa dipake band-band indie juga lagi sepi, kan?” Daisy yang ditanya juga mengangguk.
“Maksud kamu apa, Mey?” tanyaku.
“Aha, Rasha.” Mata Mey berpindah padaku. “Elo suka bantuin sepupu elo yang kerja di event organizer, kan?”
“Iya, terus kenapa? Aku cuma disuruh bikin konsep panggung sama bantu-bantu dikit doang.”
“Justru itu!” Mey menggebrak meja lagi. Bisa-bisa mejaku patah dipukul terus oleh Mey. Meja ini bukan terbuat dari kayu jati. “Gue punya ide.”
“Ide apa?” Roni penasaran.
Mey menghela napas. “Gini, kalian barusan nonton iklan, kan? Yang abis berita kebakaran.” Semua mengangguk. “Kita bantu promosiin studio Om Stef pake iklan kayak gitu.” Semua dahi berkerut, tidak mengerti. “Gini loh, maksud gue, pas nikahan kakaknya Emy sama Roni, kita rekam momen-momen pernikahannya, tapi kita pake theme song tertentu, kita yang nyanyiin. Kayak iklan barusan.” Ada yang manggut-manggut, tapi aku masih belum mengerti. “Kayak video klip, Sha. Analoginya kita artis yang nyanyi, selain video kita yang komat-kamit lipsync ada juga potongan video yang nunjukin acara nikahan kakaknya Emy.”
Aku masih garuk-garuk kepala. “Tapi…”
“Al, elo yang nyiapin baju buat kita. Pinjem dari butik Mama lo. Ntar sekalian kita promosiin.” Alisha mengangguk. “Daisy, cari lagu yang pas, bagi suaranya buat kita-kita. Elo jago musik, kan?”
“Siap, Boss.”
“Ron, elo suka ngedit video, kan? Elo yang tanggung jawab buat video editing.” Roni menaruh jemari di dahinya, sikap hormat.
“Gue?” tanya Emy.
Mey tampak berpikir. “Elo suka dance, kan? Elo urusin koreo-nya. Sekalian bujuk kakak lo soal ide kita.”
“Hah?” Aku masih melongo, tidak mengerti.
Mey menatapku, kemudian menempelkan tangannya di pipiku. Menggoyang-goyangkannya sehingga wajahku tidak karuan. “Elo gak ngerti apa lemot sih, Sha?” tanyanya menusuk. “Bayangin video klipnya artis siapaaaa gitu.”
Aku melepas tangannya dari pipiku. “Terus ntar video-nya dikemanain? Dikasih ke stasiun tv? ‘Eh, Mas. Ini video kita. Tayangin dong buat iklan.’ Gak mungkin kan?”
“Rasha Sayang.” Mey mencubit pipiku. “Jaman sekarang di mana sih tempat upload video gratis?”
“Eh? Youtube?”
“Excellent!” Mey menjentikkan jarinya. “Kita upload videonya ke Youtube. Kita publikasiin ke temen-temen, sodara, tetangga, siapa aja. Jadi, dari video klip amatiran itu kita mempromosikan secara tidak langsung studionya Om Stef, studio rekaman papanya Daisy dan butik Mamanya Alisha,” jelas Mey. Bibirku membulat.
“Dan ingat!” Telunjuk Mey memencet hidungku. “Elo yang bikin konsep videonya!” Aku bengong.
Roni tertawa. “Dasar lo, Mey. Otak bisnis!” Roni tergelak. Yang lain tertawa. Mey cengar-cengir.
Begitulah. Ide gila Mey yang kemudian kami realisasikan. Liburan kenaikan kelas kami habiskan untuk mengerjakan video ini. Awalnya memang tidak mudah, ribet malah. Banyak tahap yang kukira gampang tapi ternyata di luar dugaan. Sebagai tahap awal, Daisy memilih beberapa lagu yang romantis lantas meminta kami untuk memutuskan. Berdasarkan voting, pilihan jatuh pada lagu Sherina yang berjudul Cinta Pertama dan Terakhir. Sesuai kisah cinta Kak Chris, kakak Mey dan Roni yang akan menikah. Calon suaminya memang cinta pertama kak Chris ketika SMA, dan ternyata sekarang akan menjadi suaminya. Alisha yang menyukai segala hal yang romantis bergumam so sweet.
Berikutnya, kami berlatih vokal. Daisy memang jago soal musik dan sudah membagi rata lirik yang akan kami nyanyikan, tetapi urusan melatih vokal Mey menyerahkannya padaku. Secara tidak langsung, sejak awal Mey yang memimpin proyek ini, jadi kami menurut saja. Awalnya Alisha keberatan, untuk apa memakai suara kami yang pas-pasan, kenapa tidak lipsync saja supaya lebih mudah? Jadi tidak perlu repot-repot.
“Kita mau ngasih video yang gak cuma lipsync di depan webcam kayak banyak orang.” Mey beralasan. “Kita lebih mirip artis yang lagunya dinyanyikan ulang dan jadi video klip. Lagian kita kan sekalian ngepromosiin studio rekaman papanya Daisy.”
Alisha tidak menolak akhirnya. Berpikir kalau mungkin tidak ada salahnya berlatih bernyanyi ketika liburan. Tapi justru aku yang menemukan masalah. Menyatukan suara lima orang tidaklah mudah. Kalau bernyanyi berdua tidak terlalu sulit. Tapi kali ini ada lima suara, berarti lima kemauan, repot jadinya.  Ada yang ingin selalu menjadi suara satu, ada yang merasa bagiannya terlalu sedikit. Aku kerepotan melatih Mey yang suaranya selalu fals. Mey memang pintar bisnis seperti orang tuanya, tetapi urusan menyanyi seperti mimpi buruk bagi pendengarnya. Alisha keberatan bernyanyi terlalu membuka mulut saat aku menyuruhnya menganga mengucapkan kata tak ada. Katanya tidak etis jika perempuan mulutnya menganga lebar seperti buaya. Aku garuk-garuk kepala. Emy mengusulkan untuk minta dilatih oleh Bu Sri, Guru Kesenian. Usul itu disambut baik oleh kami semua, setelah pusing dengan suara kacau balau di rumahku setiap hari. Jadilah kami mengunjungi rumah Bu Sri ramai-ramai. Minta diajari bernyanyi, beralasan ingin mengikuti lomba tujuh belasan. Bu Sri tidak keberatan, karena beliau juga tidak banyak kegiatan. Karena libur sekolah, Bu Sri pun beristirahat dari kegiatan mengajar.
“Menyanyi itu tidak hanya dengan mulut. Tapi dengan hati. Menyanyi itu bukan cuma urusan musik dan nada, tapi bagaimana kita menangkap pesan yang ada di lagu itu kemudian menyampaikan lagi pada pendengar,” ujar Bu Sri bijak. Perkataannya sudah seperti komentator di tv saja.
Kami berlatih dengan Bu Sri selama dua mingu, seminggu dua kali. Walaupun lagu yang dinyanyikan hanya itu-itu saja, kami merasa senang. Bu Sri juga tersenyum melepas kepergian kami saat latihan kami yang terakhir. Beliau juga mengatakan semoga sukses untuk acara tujuh belasannya. Kami hanya cekikikan geli. Perkembangan yang bagus sejauh ini.
Alisha bertugas meminjam baju dari butik Mamanya. Mama Alisha tidak keberatan, justru senang putri dan teman-temannya mau membantu mempromosikan butik yang sudah beberapa minggu terakhir sepi pembeli. Kami pun pergi beramai-ramai untuk fitting baju. Karena akan digunakan pada pesta pernikahan, kami sepakat warna baju yang akan kami pakai adalah putih, seperti gaun pernikahan milik Kak Chris. Butuh berjam-jam memilih baju yang cocok. Rata-rata baju yang kami coba adalah gaun selutut dengan berbagai motif. Emy yang tomboy merasa agak risih dengan keharusan memakai gaun, tapi dia menurut saja ketika disuruh memakai gaun putih dengan pita besar di bagian dada sebelah kanan.
“Manis dan simple,” gumam Alisha.
“Tapi nggak cocok sama rambut gue. Pendek.” Emy manyun. Dia masih ingin mengenakan celana jeans.
“Pake wig aja.” Daisy usil.
Alisha menggeleng. “Nggak boleh gitu, Emy. Kamu kan yang nanti megang ekor gaun kakak kamu. Masa pengiring pengantin pake jeans bolong? Nggak lucu.”
Meski Alisha bilang tidak lucu, aku dan Daisy tetap tertawa. Emy semakin manyun. Kami sudah mendapatkan gaun masing-masing. Soal sepatu, Alisha memutuskan agar kami kembaran. Dia memilihkan high heels putih berhak lima sentimeter (Emy hampir pingsan) dengan model yang sama namun berbeda ukuran. Khusus untuk Emy, Alisha berjanji akan mengajarinya berjalan menggunakan sepatu hak tinggi.
“Kalo gue kesrimpet gaun kakak gue gimana? Gue pake sneaker aja ah.” Untuk kesekian kalinya Emy membantah.
“Kan elo denger apa kata Mama, ‘Mama pengen ngeliat kamu jadi cewek satu hariiiiiiiiiiiiiiiiii aja’.” Roni yang ikut ke butik menimpali. Emy mendengus kesal. Roni tertawa puas.
Lagu beres, latihan menyanyi beres, baju beres, sekarang tinggal rekaman. Agak susah membujuk papanya Daisy. Tapi setelah diiming-imingi akan dipromosikan juga, ditambah jurus rayuan Alisha (Alisha pintar merayu, keahlian yang unik selain merawat kuku dan berdandan) akhirnya papa Daisy mengangguk setuju. Setelah latihan vokal yang dirasa cukup matang bersama Bu Sri, jadilah kami rekaman bak artis professional. Papanya Daisy membantu proses rekaman sampai CD yang berisi suara kami jadi. Sungguh terharu menyadari bahwa suara kami tidak terlalu mengerikan. Mey sampai menangis sambil mengatakan kalau suaranya tidak fals sama sekali, suatu keajaban katanya.
Tahap terakhir, pengambilan gambar. Tahap ini dilakukan pada hari pernikahan Kak Chris. Aku sudah mengajukan konsep yang kubuat pada Mey dan yang lain. Tentang latar yang digunakan, scene yang akan diambil dan sebagainya. Banyak yang belum mengerti memang, tetapi Roni yang memegang jabatan sebagai sutradara merangkap sebagai editor paham. Rencananya kami akan menggunakan dua kamera milik Om Stef, Roni memegang yang satunya. Walau masih terbilang amatir, Roni sudah diajari sedikit-sedikit oleh omnya bagaimana cara mengambil gambar yang baik, trik pencahayaan, dan tetek bengek lainnya. Emy yang awalnya bertugas mengurus koreografi kecewa karena kami tidak memerlukan koroegrafi, setidaknya untuk saat ini karena lagu yang kami nyanyikan agak mellow.
Waktu berjalan begitu cepat. Karena sibuk mempersiapkan semua hal, tidak terasa hari pernikahan Kak Chris tinggal tiga hari lagi. Artinya pengambilan gambar kami juga sebentar lagi. Sebenarnya aku agak ragu dengan rencana kami walaupun sudah berjalan lancar sampai sejauh ini.
“Gimana kalo orang-orang gak suka video kita?” tanyaku pada Mey. Kami sedang di rumahku yang sekarang dijadikan basecamp. Tenang, nyaman, tidak akan ada yang menganggu kecuali pengamen. Alisha sedang mengajari Emy menggunakan sepatu hak tinggi, Emy mondar-mandir ruang tamu-ruang tengah seperti setrikaan.
“Optimis dong, Sha,” jawab Mey singkat.
“Iya, tapi kan sikap orang gak gampang dtebak. Kita udah melibatkan banyak pihak, kasian kalo ternyata hasilnya tidak sesuai yang diharapkan,” kataku lagi.
Mey menatapku tajam. Aku agak bergidik takut dia marah. “Denger ya, gue udah nanya soal ini ke Mami sama Papi gue berkali-kali, dan mereka bilang ini ide bagus, keberuntungan ada di pihak kita. Selama empat puluh tahun, insting bisnis Mami Papi gue gak pernah meleset!” Mey melotot.
Aku mengangguk-angguk lalu menghindari tatapan Mey. Bukan takut melainkan lucu melihat mata sipit Mey yang hampir tidak punya kelopak mata sekarang terbelalak lebar. Jadi seperti mata kucing. Aku menutup mulut menahan tawa.
“Emy! Kamu itu jalan apa abis ketabrak truk, sih?!” teriak Alisha. Yang diteriaki hanya meringis.”Jangan pincang gitu, dong. Nanti kamu dikira korban tabrak lari.”
Daisy yang menonton tersenyum geli. Aku mengangkat bahu. Mungkin Mey ada benarnya. Aku saja yang terlalu khawatir.
Hingga tibalah hari itu. Hari pernikahan kak Chris. Aku gugup, sangat gugup. Takut kamera yang akan digunakan rusak, takut Emy menginjak gaun kakaknya, takut tidak lancar, takut merusak pernikahan kak Chris, takut ini takut itu. Tapi ketakutanku yang berlebihan tidak terjadi. Malah sebaliknya.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

“Cepetan, Ron. Lambret amat sih? Kita pengen liat hasilnya.” Mey mengomel.
“Sabar, Non. Ini juga baru dinyalain laptopnya.”
“Lama amat sih ngedit videonya? Udah dua minggu baru kelar.” Alisha ikut mengomel. “Mama aku nanyain terus.”
“Dia ngedit videonya siang malem, sampe begadang,” kata Emy. “Disuruh makan aja susah sama Mama.”
“Emang serumit apa sih ngedit videonya? Gak dibantuin sama om kamu?” tanyaku.
“Dibantuin lah, tapi kan om gue cuma bisa motong-motong adegan di videonya, dan biasanya gak serumit ini, gue juga baru belajar. Gue nanya-nanya sama anak klub sinematografi.” Roni sudah membuka folder dan mencari file video yang dibuatnya. “Nah, ini dia.” Dia mengklik dua kali pada icon video yang dicarinya.
Aku, Alisha, Mey, Daisy, dan Emy merapat, menjulurkan kepala menatap serius layar laptop Roni. Adegan dimulai.
Intro lagu terdengar. Dentingan piano dan gesekan biola mengalun. Tampak kain putih berkibar lambat. Lalu muncul tulisan “Cinta Pertama dan Terakhir by DREAM”.
“Dream?” seruku. “Apa itu?”
“Sssshhhh.” Yang lain serempak menyuruhku diam. Aku manyun.
Lalu muncul sosok Daisy duduk beranda (kalau tidak salah beranda rumah Emy tempat berlangsungnya resepsi pernikahan). Daisy mengenakan gaun putih lengan panjang berenda indah. Rambutnya dibando dengan cantik.
Sebelumnya tak ada yang mampu
Mengajakku untuk bertahan di kala sedih
Lalu muncul gambar bingkai-bingkai foto yang berjejer. Foto ketika Kak Chris masih kecil hingga beranjak dewasa.
Sebelumnya kuikat hatiku
Hanya untuk aku seorang
Lalu foto Kak Chris dengan calon suaminya pada foto pre-wedding. Sekarang giliran Mey. Membawa payung putih, dia bernyanyi (lipsync tepatnya).
Sekarang kau di sini
Berganti Kak Chris yang sudah mengenakan gaun pengantin.
Hilang rasanya
Lalu calon suami kak Chris yang tersenyum lebar.
Semua bimbang tangis kesepian
Berganti dengan Emy yang memegang ekor gaun kakaknya.
Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Tentang rasa ini aku tak mengerti
Emy menggeleng pelan, digantikan gambar kakaknya yang berjalan menuju altar.
Akankah sama jadinya bila bukan kamu
Lalu wajah papa Kak Chris yang menggandeng putrinya, tampak gugup.
Laiu senyummu menyadarkanku
Beralih ke calon suami kak Chris yang masih tersenyum lebar. Kak Chris sampai di altar.
Kau cinta pertama dan terakhirku
Kak Chris dan calon suaminya saling menatap, tersenyum bahagia. Sekarang gantian Alisha, menyandar manis di batang pohon sambil bersedekap. Rambutnya terurai di atas gaun sabrinanya.
Sebelumnya tak mudah bagiku
Tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini
Alisha mengepalkan tangan.
Sebelumnya rasanya tak perlu
Membagi kisahku
Lalu membuang tangannya seperti penyanyi Rossa. Temanku yang satu ini benar-benar menghayati.
Tak ada yang mengerti
Giliranku. Aku berdiri di bawah pohon sambil membentangkan tangan. Gambar diambil dari atas.
Sekarang kau di sini
Hilang rasanya
Berganti gambar suami kak Chris (sudah resmi waktu itu) menyematkan cincin di jari manis Kak Chris
Semua bimbang tangis kesepian
Masih giliranku, sekarang aku memegang balon putih berbentuk hati.
Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Tentang rasa ini aku tak mengerti
Suami Kak Chris mencium kening istrinya.
Akankah sama jadinya bila bukan kamu
Laiu senyummu menyadarkanku
Kak Chris menatap suaminya yang tersenyum lalu memeluknya.
Kau cinta pertama dan terakhirku
Emy lagi. Dia berjalan mendekati kamera.
Bila suatu saat kau harus pergi
Jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
Kak Chris dan suaminya berlari dengan gerakan slow motion. Suami kak Chris tersenyum.
Karena senyummu menyadarkanku
Kak Chris melemparkan buket bunga.
Kaulah cinta pertama dan terakhirku
Alisha lah yang menerima buket bunga (dengan sedikit rekayasa). Alisha mengulangi reff.
Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Giliranku berimprovisasi (istilah yang aneh)
Tentang rasa ini aku tak mengerti
Sekarang giliran Mey lagi. Masih memegang payung putih yang terkembang.
Akankah sama jadinya bila bukan kamu
Laiu senyummu menyadarkanku
Mey menatap ke atas, kamera menyorot awan yang berbentuk hati.
Kau cinta pertama dan terakhirku
Lalu Daisy sebagai suara satu, menyanyikan refrain dan aku sebagai suara dua berimprovisasi. Berdiri berdua dengan latar belakang danau.
Kau buat aku bertanya
Kau buat aku mencari
Adegan Kak Chris dan suaminya saling menyuapi kue pengantin.
Tentang rasa ini aku tak mengerti
Mereka belepotan krim dan tertawa. Giliran Alisha dan Emy.
Akankah sama jadinya bila bukan kamu
Kemudian dansa pengantin, mereka (bukan Alisha dan Emy) saling tatap, suami Kak Chris tersenyum.
Laiu senyummu menyadarkanku
Lalu gambar Kak Chris dan suaminya di pelaminan. Kali ini bukan kami yang lipsync, melainkan kak Chris meskipun dengan suara Mey.
Kau cinta pertama dan terakhirku
Kak Chris menyentuh pipi suaminya. Air mata bahagia  mengalir. Lalu aku improvisasi (lagi). Dengan latar kami berlima dengan latar danau.
Lagu selesai, kamera menyorot langit biru dengan awan putih. Kemudian muncul tulisan timbul berwarna perak.
JUST GET MARRIED
CHRIS & DENNIS
Kemudian berganti tulisan.
THANKS TO :
STEP Photo Studio and Video Shooting
Berganti tulisan.
RETRY Recording Studio
Berganti lagi.
AND
Berganti lagi.
ALISHA Boutique
Berganti lagi
For more info visit www.dreamadvertising.blogspot.com
Berganti lagi.
Thank you for watching
Video selesai. Kami semua terdiam. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
“Keeeereeeeeeennn!!!!” Kami berlima berteriak serempak. Roni menutupi kuping.

¯¯¯¯¯¯¯¯¯

“Eh, elo udah liat video yang dibikin si Roni?” tanya seorang anak di kelas XII IPA 4.
“Yang mana?” yang ditanya malah balik nanya.
video nikahan kakaknya dia. Keren.”
“Mana coba liat.”
“Nih, udah gue download videonya dari Youtube.”
Mereka berdua diam, menatap takzim layar laptop.
“Lumayan, pencahayaannya bagus,” gumam yang perempuan.
“Bukan lumayan, liat deh angle-nya. Cuma dari dua arah tapi pas,” seru yang laki-laki.
“Ini yang nyanyi siapa? Bukan suara Sherina yang asli, kan?”
“He-eh,” jawab yang laki-laki. “Kata Roni itu suara temen-temennya.”
Temannya yang perempuan terbelalak. “Serius lo? Rekaman di mana mereka?”
“Serius, di papanya Daisy katanya, anak XI IPA 2,” jawab yang laki-laki. “Yang nyanyi juga semua anak XI IPA 2 juga, temen sekelas Roni. Gue lupa namanya siapa aja. Cuma inget yang cantik, yang mamanya punya butik. Itu, si Alisha.”
“Urusan yang cantik aja lo inget,” temannya mencibir. “Canggih juga si Roni. Ajak dia masuk klub, Ri. Lumayan tuh anak berbakat kayak dia.”
“Iya, udah gue tawarin. Mau gabung katanya taun ini. Pas liburan juga dia nanya-nanya soal lighting, pengambilan gambar, yang gitu-gitu. Ternyata dia mau bikin video ini.”
“Ini video apa sih sebenernya?” tanya yang perempuan.
“Kata Roni sih iklan terselubung. Dia sama temen-temennya ngepromosiin studio foto punya omnya, butik si Alisha, sama studio rekaman temennya. Sekalian ngedokumentasiin resepsi kakaknya.” Bibir temannya membulat. “Menurut gue mereka kreatif, gak pernah terpikir sebelumnya sama gue.” Temannya yang perempuan manggut-manggut.
Aku yang sedari tadi nguping di depan pintu kelas tersenyum lebar. Senang rasanya ada yang memuji hasil kerja keras kami. Kemudian aku merapikan seragam dan rambut, memasang wajah seolah tidak pernah nguping sebelumnya, lalu mengetuk pintu.
“Masuk,” kata yang di dalam. Aku berjalan masuk.
“Eh, Kak Ari. Maaf ganggu,” ujarku sopan. Agak takut sebenarnya menghadap kakak kelas. “Ini formulir pendaftaran punya Roni. Dia mau masuk klub sinematografi.” Aku mengangsurkan selembar kertas. Kak Ari menerimanya.
“Roninya ke mana?” tanya Kak Ari.
“Tadi dipanggil Pak Darwo, Kak. Jadi dia minta saya yang ngumpulin.” Mulut Kak Ari membulat.
“Kamu gak tertarik buat ikut kayak Roni?”
Aku meringis. “Eh, enggak, Kak.”
Kak Ari mengangguk. “Mmm, siapa nama kamu?”
“Rasha, Kak. Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa. Nanya aja. Makasih, Rasha.”
“Eh, iya, Kak. Makasih juga. Permisi.” Aku buru-buru ngeloyor pergi. Risih sekali tadi dipelototi temannya Kak Ari dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Memangnya aku apaan?
Aku berlari menuju kantin. Sekarang istirahat, kantin jadi sangat ramai. Sangat penuh oleh lautan anak-anak sampai aku celingukan mencari teman-temanku. Mey melambaikan tangan, memberitahu keberadaan mereka.
Aku duduk di sebelah Alisha yang menyeruput teh botol. Dia melirikku yang baru duduk di bangku.
“Udah ngasihin formulirnya? Lama amat,” ujar Alisha.
Aku nyengir. “Sori, tadi nguping dulu.”
Daisy yang sedang menyantap bakso tersedak. Kemudian dia melotot padaku. “Elo nguping, Sha?”
Aku senyum-senyum. “Iya, tapi nguping yang baik kok. Tadi di depan kelas Kak Ari. Dia ngomongin video kita.”
“Trus dia bilang apa?” tanya Mey penasaran. Dia ber-hah kepedasan setelah mengunyah bakso.
“Dia bilang video kita keren. Dia juga bilang si Roni pinter ngambil gambarnya, sama ngomong istilah-istilah aneh yang aku gak ngerti,” jawabku. “Dia juga bilang Alisha cantik.” Aku tersenyum menggoda. Yang baru disebut namanya bersemu merah.
“Adeuh, ada gosip baru!” Emy mulai mengejek. Pipi Alisha tambah merah. Semuanya senyum-senyum menggoda Alisha.
Hanya Mey yang tersenyum kecut. “Kabar buruk, Kawan,” katanya.
Semua kepala menoleh ingin tahu. “Kenapa, Mey?” tanyaku.
Mey menghela napas, “Sampe sekarang belum ada yang order iklan.”
Daisy mengangkat bahu, “Ambil positifnya. Seenggaknya studio Papa gue udah nggak sesepi sebelumnya.”
Alisha manggut-manggut. “Mama dapet pesenan gede-gedean. Gaun yang kita pake di video dipesen semua sampai beberapa lusin. Sama beberapa model yang lain juga.”
“Dan om gue juga dapet rejeki,” tukas Emy. “Jadi banyak yang mau foto keluarga gara-gara Roni masang foto keluarga abis nikahan di blognya. Yang foto wisuda juga banyak. Yang minta video shooting apalagi. Si Roni jadi dapet uang jajan tambahan dari Om Stef,” jelas Emy panjang lebar. “Bener kata Mey. Ini nih yang namanya The Power of Kepepet. Kalo lagi kepepet, adaaa aja jalan keluarnya.” Emy terkekeh lagi.
Mey hanya diam. Aku menatapnya kasihan. “Mungkin butuh waktu, Mey. Nggak bakal tiba-tiba ada order iklan jatuh dari langit, kan?” Aku tersenyum menghibur. “Sabar sedikit lah.”
Emy cengengesan. “Orang sabar pantatnya lebar.” Yang lain tertawa. Mey ikut tertawa.
Alisha menimpali. “Orang sabar disayang pacar.” Dia tersenyum geli.
Kami semua diam. Alisha menatap kami bingung.
“Adeeeuuuuhh…” seru kami kompak menggoda Alisha. Yang digoda pipinya bersemu merah lagi.
“Udah ngomong pacar-pacaran nih,” goda Daisy.
“Siapa yang pacaran?” bukan suara Alisha melainkan suara Roni yang baru datang dengan muka kusut.
Abis ngapain lo? Digigit Pak Darwo?” tanya Emy lalu tertawa. Digigit berarti diberi tugas. Hanya istilah aneh yang dibuat oleh si kembar. Mereka selalu menganggap guru killer adalah buaya yang siap menggigit. Menurutku Pak Darwo tidak ada killer-nya sama sekali. Hanya sering memberi tugas dan menyuruh ke depan mengerjakan soal. Tidak pernah berteriak atau menganga mulutnya seperti buaya sungguhan. Yang sependapat denganku hanya Alisha.
“Iya,” jawab Roni sambil menghenyakkan diri di bangku sebelahku yang kosong. “Gara-gara gue telat tadi pagi.”
Daisy tertawa. “Salah elo sendiri, telat setengah jam. Kayak rumah elo dari Ujung Berung aja.”
Roni menatap sebal Daisy. “Gue begadang ngedit video.” Kemudian menatap galak Emy. “Elo juga gak bangunin gue padahal kamar lo sebelahan.”
Emy mengangkat bahu. “Gue udah bangunin elo, sampai teriak di kuping. Emang dasar elonya aja yang kebo.” Roni mendengus kesal.
“Emang dikasih tugas segimana sama Pak Darwo?” tanya Alisha.
“Dua puluh soal tentang momentum. Mana gue gak ngerti lagi.”
“Tenang, ntar dibantuin kok,” ujarku menepuk bahu Roni.
Roni memandangku dengan tatapan berbinar.”Elo mau bantuin gue?”
Aku menggeleng. Wajah Roni berubah kecewa. “Bukan gue, tapi Alisha.”
Alisha melirik dengan tatapan aneh. “Kok aku?”
Aku nyengir. “Al kan baik, pinter, cantik lagi kayak kata Kak Ari. Pasti mau.” Aku terkekeh melihat pipi Alisha bersemu lagi. Selain pintar merayu, dia juga mudah dirayu.
“Iya deh,” ujar Alisha akhirnya.
Roni sudah tersenyum bahagia, tapi kemudian mengerutkan kening. “Kak Ari apa tadi?”
“Bukan apa-apa,” aku berbohong. Tidak terlalu penting. “Oh iya, Ron. Dream itu apaan?”
“Mimpi,” jawab Roni singkat, sambil berusaha mencicipi bakso kepunyaan Emy di depannya. Emy menarik mangkoknya menjauh dari Roni.
“Bukaaan. Yang di video kita itu loh. Pas opening. Kan ada tulisannya ‘Dream’. Blog elo juga namanya ‘Dream’ kan?”
“Oh,” katanya. “Dream? Itu singkatan nama kalian.”
“Eh?” tanyaku tidak mengerti.
“Gue yang bikin.” Emy yang menjawab. “Waktu nemenin abang gue yang usil ini ngedit video kita, dia nanya nama yang pas buat ngasih tau identitas kita, sekalian nama blog kita, nama itu yang terpikir di kepala gue. Roni juga setuju.”
“Singkatan? Singkatan apa? Kok elo gak nanya kita-kita duu?” tanyaku lagi.
“Elo tuh ya, nanya mulu,” ujar Emy. Dia meraih tisu dan pulpen di sakunya, menulis sesuatu. Kemudian menyerahkannya padaku. Alisha ikut melongok ingin melihat.
DREAM
Daisy, Rasha, Emy, Alisha, Mey
“Sori gue gak nanya kalian dulu. Gak sempet. Udah keburu jadi videonya terus langsung diupload,” ujar Emy.
Aku mengernyitkan kening. “Oh, ternyata selama ini bener ya nama kamu Daisy. Kata papa kamu Desi. D-E-S-I.” Alisha di sebelahku menahan tawa.
“Nggak,” sergah Daisy. “Itu di akte kelahiran doang. Petugasnya waktu itu gak bisa bahasa Inggris.”
Roni tertawa. “Ngarang lo.”
Aku mengalihkan pandangan ke tisu itu lagi. “Mey? Kamu kan namanya Maesaroh.”
Mey yang sedang minum es jeruk hampir menyemburkan air karena kaget. “Enak aja! Itu mah si Mae yang duduk di belakang. Nama gue Meylani tau!” Mey semangat membantah.
Aku nyengir. “He, sori. Lupa.”
Mey mengalihkan pandangan ke arah Roni. “Udah dapet order belum?”
“Oh iya, gue hampir lupa.” Roni merogoh saku. “Ada tadi pagi. Dia minta dibikinin video juga.” Dia mengangsurkan secarik kertas. “Itu nama perusahaan sama alamatnya, lengkap sama nomor teleponnya. Dia mau bayar berapa aja.”
Mey tersenyum puas menerima kertas dari Roni. “Bagus. Kita mulai kerja. Rasha, siapin konsepnya.”
“Bentar, perusahaan apa dulu? Bikin konsep tuh gak gampang,” ujarku. Konsep video untuk pernikahan kak Chris memang aku yang membuatnya. Temanya white love. Makanya kami mengenakan gaun putih, pakai payung putih, ada balon putih, aksesoris putih, semua serba putih sesuai tema.
Mey menyerahkan kertas yang dipegangnya. Aku membacanya sekilas. Kemudian muncul perasaan kaget, bingung, aneh, campur jadi satu.
Toko Lampu “Kambing”
Jalan Sukajadi No. 1945
Telp. (022) 5471234
Toko Kambing? Harusnya ini bukan toko lampu, tapi tempat penjagalan hewan. Keningku berlipat-lipat. Bagaimana membuat konsep dengan nama toko aneh begini? Emy yang sudah membaca kertas itu tertawa keras, mengatakan sesuatu tentang kostum kambing dan menari-nari membawa lampu. Aku tidak memperhatikan lagi. Sibuk mengusap dahi. Kebingungan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment