Powered by Blogger.

Tentang Saya

My Photo
Rizka Khairunnisa
View my complete profile

Followers

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

RSS

1 PERI-PERI HATIKU

PERI-PERI HATIKU

 
 http://www.myfreewallpapers.net/


Aku menghela napas. Menatap nelangsa jam dinding di atas kepala Pak Darwo, guru Fisika. Rasanya jarum menitnya terlalu lama melangkah, seperti siput. Bahkan, siput peliharaan Spongebob yang bernama Gary bisa lebih cepat dibanding jarum menit di kelas. Aku menatap sekeliling. Semuanya bertampang kusut, mengerjakan soal ujian Fisika dengan berbeda-beda pose. Ada yang sibuk menulis, ada yang sibuk menghapus, membolak-balik kertas, atau menggerak-gerakkan telunjuk di udara menggambarkan lintasan parabola. Mey di sebelah kiriku megap-megap, seolah-olah soal di depannya akan menelannya bulat-bulat. Daisy yang sebangku dengan Mey tampak sebelas-dua belas dengan kawannya, malah lebih parah. Wajahnya tertekan campur tegang seperti baru melihat buaya sebesar sofa. Aku menoleh ke belakang, ke arah Roni dan Emy. Mereka sangat kompak, tidur di atas kertas soal, entah dikerjakan atau tidak. Pipi mereka berdua menempel pada meja, wajah mereka sama-sama menghadap ke kiri. Aku menggelengkan kepala, takjub dengan sikap mereka.
Rata-rata semua anak bermuka stres sejak satu setengah jam yang lalu. Kecuali tiga orang, Emy dan Roni yang tidur, serta Alisha. Waktu ujian tinggal setengah jam lagi, anak-anak mulai sibuk berbisik-bisik dengan yang lain, menanyakan jawaban. Mey dan Daisy berbisik pada diri sendiri, menggerutu kenapa soal-soalnya sesulit soal Olimpiade. Aku senyum. Salah mereka sendiri tidak mau ikut belajar minggu-minggu kemarin, malah asyik keluyuran. Emy dan Roni yang berandal tidak terlalu peduli. Prinsip mereka adalah, kerjakan sebisanya, tidur sisanya. Mereka begadang semalaman hanya untuk main game.
“Kamu udah beres, Sha?” tanya Alisha teman sebangkuku. Aku mengangguk.
Aku menatap ke sebelah. Alisha sedang mengecek kertas jawabannya, kalau-kalau ada yang terlewat atau salah jawab. Aku ikut mengecek jawabanku sendiri, walau ini sudah yang ketiga kalinya.
“Ah bosan,” ujar Alisha pelan. Alisha melirik ke arahku, “Aku udah ngecek sampai sepuluh kali, bosen banget.” Dia bersungut-sungut. Aku hanya tepana, melongo tepatnya. “Aku udah selesai dari jam sembilan,” kata Alisha tanpa ditanya. Buset, pikirku. Berarti dia sudah selesai mengerjakan setelah setengah jam soal dibagikan. Saat itu aku baru selesai seperempatnya mungkin.
“Waw,” kataku akhirnya. Entah harus berkata apa lagi.
Hening. Lima belas menit lagi waktu habis. Pak Darwo berdehem. “Yang sudah selesai silakan dikumpulkan.”
Alisha yang paling pertama bangkit dari kursi. Maju ke depan mengumpulkan kertas soal dan kertas jawaban. Pak Darwo tersenyum senang melihat Alisha mengumpulkan jawabannya lalu kembali ke bangku. Sedetik kemudian Pak Darwo melotot ke murid yang duduk paling depan, menyuruh untuk segera menyelesaikan soal ujiannya. Anak yang dipelototi hanya meringis.
Aku masih bimbang antara mengumpulkan atau tidak.
“Nggak dikumpulin, Sha?” bisik Alisha. Aku menggeleng. “Cepet kumpulin, abis ini kan kita nonton,” ujar Alisha pelan, takut terdengar anak lain atau Pak Darwo.
Demi mendengar kata “nonton” yang diucapkan Alisha barusan, Mey dan Daisy langsung mempercepat laju pulpen mereka, yang awalnya satu meter per detik menjadi seratus meter per detik saking buru-buruya. Dan demi mendengar kata “nonton”, kepala Emy dan Roni seakan dialirkan berjuta volt lisrik hingga keduanya tersentak dan beranjak bangun dari tidur panjang. Kepala Emy sedikit sempoyongan sebelum memperoleh titik kesetimbangan. Roni mengerjapkan mata, menyesuaikan pupil matanya dengan intensitas cahaya di kelas. Saking kompaknya, kedua bocah itu mengelap air liur di pipi mereka bersamaan. Alisha mengernyit jijik.
Si kembar sangat tidak identik itu maju mengumpulkan kertas ke meja. Alisha lekas membereskan alat-alat tulisnya. Aku berjalan gontai menghadap Pak Darwo, pasrah pada jawabanku yang seadanya. Mungkin tidak selengkap dan serumit Alisha. Karena melihat kami sudah mengumpulkan kertas ujian, Mey dan Daisy semakin terpacu untuk menulis, seolah-olah keluar asap dari pulpen mereka berdua. Entah tulisan mereka bisa dibaca atau tidak.
Sepuluh menit kemudian, aku, Alisha, Emy dan Roni sudah menunggu di luar kelas. Mey dan Daisy membereskan alat tulis mereka seperti kesetanan. Mereka berdua yang paling terakhir mengumpulkan kertas ujian. Aku melirik Mey dan Daisy di dalam. Mereka berlari berebut salam dengan Pak Darwo kemudian berebut keluar kelas. Badan mereka berdua stuck di ambang pintu, tidak ada yang mau mengalah untuk mundur dan membiarkan yang lainnya maju. Kami berempat melenggang santai menuju gerbang meninggalkan dua kurcaci terjepit di pintu. Alisha bahkan menatap mereka berdua sambil mengibaskan rambut panjangnya, seolah mengatakan kalian ini anak SMA apa SD sih, malu-maluin aja. Mey dan Daisy melotot melihat kami pergi begitu saja. Di belakang mereka Pak Darwo berdeham, mau lewat. Terpaksa Mey dan Daisy mundur, mempersilakan Pak Darwo lewat sambil meringis, kemudian berlari mengejar kami. Emy dan Roni yang melihat Daisy dan Emy berlari, lantas menarik tanganku dan Alisha kemudian segera berlari kencang. Aku dan Alisha melirik ke belakang, lalu menoleh ke depan. Si kembar tersenyum licik. Aku dan Alisha tahu apa artinya.
Jadilah kami kejar-kejaran menuju gerbang, Mey dan Daisy di belakang. Kami berempat melewati jejeran mobil bagus milik para guru dan murid yang orang tuanya tajir. Kami berada lima meter di depan gerbang. Gerbang sekolah kami setengah tertutup. Tidak digembok tetapi tetap dirantai dan rantai itu dibiarkan memanjang sehingga menyisakan celah untuk orang lewat. Celah ini tidak dapat diperbesar selain oleh petugas satpam. Hanya satu orang yang yang dapat melewati celah gerbang sesempit itu, tidak pula motor apalagi mobil. Tanpa dikomando, Roni memegang tangan Emy, Emy memegang tangan Alisha, dan Alisha memegang tanganku. Kami berempat sudah tepat di depan gerbang. Roni merunduk sambil berlari melewati rantai gerbang, tetap memegang Emy. Kembarannya itu ikut menurunkan kepala, langsung berdiri lagi setelah rantai melewati kepalanya. Kemudian gantian Alisha lalu aku, sambung-menyambung. Kami tetap berpegang tangan, Roni menarik tangan Emy sehingga aku keluar gerbang lebih cepat. Pak Satpam yang sejak pagi berjaga berusaha mencegah kami. Mungkin mengira kami bolos. Aku menoleh ke belakang.
“Kami sudah selesai ujian kok, Pak.” Aku setengah berteriak.
Kami langsung berlari ke jalan raya yang hanya berjarak tiga meter dari gerbang. Karena jalan ini satu arah, kami hanya perlu melihat ke kiri. Angkot di sebelah kiri kami masih jauh. Bagus. Tetap dengan berpegangan tangan, kami menyeberang jalan kemudian langsung menyetop angkot Kalapa-Ledeng yang tengah melaju kencang. Angkot itu langung berhenti. Ckiiiit. Eksotis sekali suara rem angkot itu seperti suara mobil sport di film Fast and Furious. Kami berempat bergegas menaiki angkot, sudah tidak berpegangan tangan. Aku melihat sebentar ke arah gerbang. Mey dan Daisy sedang ditangkap dan diinterogasi oleh Pak Satpam, kalau-kalau mereka kabur. Kedua gadis itu menunjuk-nunjuk kami.
“Cepetan jalan, Pak!” seru Roni sambil ngos-ngosan. Dia tidak mau Mey dan Daisy menyusul kami.
Supir angkot melirik spion, lalu melihat ke sekitar jalan mencari kemungkinan adanya penumpang. Pak Supir menunjuk ke seberang.
“Kayaknya ada yang mau naik tuh. Sebentar, ya.” Kami semua menoleh ke arah gerbang, Mey dan Daisy tengah berlari menuju jalan raya. Sepertinya Pak Satpam sudah meloloskan mereka. Roni menepuk dahi.
 “Sial. Gagal deh rencana gue.” Aku hanya tersenyum melihatnya bersungut-sungut.
Mey dan Daisy sudah berhasil mencapai angkot. Keduanya duduk di kursi belakang supir. Pak Supir mulai tancap gas.
“Heh! Enak aja ninggalin kita!” Mey mendengus kesal.
“Iya, gak setia teman kalian!” Daisy menunjuk-nunjuk wajah kami. Keduanya masih ngos-ngosan.
“Siapa yang punya ide ninggalin kita berdua? Pasti elo ya?” Mey bertanya pada Alisha. Lebih tepatnya mendakwa. Alisha menggeleng. “Elo?” Mey menunjuk hidungku. Aku menggeleng. Aku dan Alisha serempak menunjuk Emy yang duduk di depanku. Dan Emy menunjuk Roni yang duduk di pojok. Yang terakhir ditunjuk cuma nyengir.
Mey mulai mengamuk. “Dasar lo ya! Sini gue cubit biar tau rasa!” Mey sambil setengah berdiri berjalan menuju bangku Roni. Roni memelas minta ampun.
“Gue ikut! Gue juga ditinggalin!” Daisy ikut nimbrung. Roni menelan ludah. Dicubit oleh dua gadis super ini bukan siksaan yang enak.
“Curang! Yang ninggalin mereka kan gak cuma gue!” Roni membantah.
“Iya tapi otaknya kan elo.” Emy menimpali. “Siapa sih yang tadi ngebisikin gue buat ngerjain Mey sama Daisy? Kan elo!” Emy menyeringai. Aku tertawa. Alisha tersenyum geli.
Tamat sudah. Dengan puas Mey dan Daisy mencubit, menggelitik, menjambak, dan segala bentuk “penyiksaan” lainnya pada Roni.
“Hei! Lo bilang cuma nyubit! Kenapa pake jambak-jambak segala?”
“Biarin! Biar tau rasa!”
“Heh, My! Tolongin gue!”
“Ooooogaaaaaah,” cibir Emy. Aku dan Alisha tertawa.
Penyiksaan terus berlanjut hingga angkot memasuki jalan Cihampelas. Di kiri kanan jalan hanya ada deretan factory outlet tanpa putus. Mulai yang biasa saja sampai yang aneh-aneh. Ada yang memajang patung Catwoman karena nama factory outlet-nya memang Catwoman, ada pula Spiderman, ada juga Iron Man, dan masih banyak lagi factory outlet yang memajang patung raksasa di halaman atau dekat atap toko. Factory outlet yang aku suka adalah KPK, singkatan dari Kelompok Pecinta Kaos. Lambang mereka adalah huruf KPK, dengan huruf K berwarna hitam dan huruf P berwarna merah. Persis lambang Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta. Jalan Cihampelas hampir tidak pernah sepi oleh orang yang lalu lalang hendak berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Turis mancanegara sering terlihat mondar-mandir, mungkin berlibur. Pedagang kaki lima di depan factory outlet menambah sempit jalanan. Jadilah Jalan Cihampelas ini sering macet, entah oleh angkot, taksi, mobil pribadi, atau bus-bus pariwisata. Angkot kami terseok-seok maju menyusul taksi di depannya.
Roni masih dicubiti pipinya oleh Daisy, dan dijambak rambutnya oleh Mey. Demi menghentikan penyiksaan itu, matanya terbelalak.
“Udah nyampe! Udah nyampe!” Tangannya menunjuk-nunjuk ke luar. Mey dan Daisy celingukan. Kami berada di depan gerbang Cihampelas Walk, atau biasa disingkat Ciwalk. Sebuah kawasan mal yang terletak di Jalan Cihampelas.
“Ini baru nyampe Ciwalk, Dodol!” Seru Mey. Elo mau nipu kita ya?”
Roni nyengir sambil mengeleng.
Kita ninton di BIP aja, ujarku.
“Iya, iya. Tapi udahan ah, sakit nih. Ampun, ampun.” Roni mengusap pipinya yang merah dan rambutnya yang acak-acakan.
“Oke kita berhenti,” kata Daisy. “Tapi ada hukuman lain.”
Roni melotot. “Apaan? Gak mau gue.”
“Eit, tidak bisa. Elo mau nonton gak?” tanya Daisy galak. Roni manyun.
“Iya, mau.”
“Elo beliin tiketnya, sekalian sama popcorn dan minumannya,” ujar Daisy santai.
“Buset, ogah ah. Gak punya duit gue.”
“Yee, siapa juga yang nyuruh elo bayarin? Ngutang sama bioskop yang ada. Ya pake duit kita lah! Kan baru gajian.”
Roni nyengir lagi. “Iya juga ya.”
“Nih duitnya gue kasih ke elo.” Daisy mengangsurkan beberapa lembar uang berwarna merah seratus ribuan kepada Roni.  “Sama ini juga.” Daisy meletakkan uang receh seribuan di telapak tangan Roni. Roni menatap bingung.
“Yang receh ini apaan?”
“Apalagi? Ya ongkos angkot lah!” Daisy mendengus. Yang lain tertawa.
“Jadi kenek baru, Ron?” ejek Mey. Roni manyun lagi.
Angkot mulai merayap keluar dari kawasan padat Cihampelas. Berjalan pelan sampai akhirnya membelah Jalan Wastukencana, melewati pasar bunga.
“Kita nonton apa?” tanyaku tanpa ditujukan pada siapa-siapa.
“Hmmm,” gumam Alisha. “Apa ya?”
“Spiderman 10,” ujar Emy.
“Jangan,” sergah Mey. “Madagascar 5 aja.”
“Kita butuh refreshing abis ujian,” Daisy menimpali. “Pirates of The Carribean 7 aja.”
“Madagascar 5 aja, kan lucu.”
“Pirates aja, lebih lucu malah.”
“Spiderman aja, Peter Parker-nya kan baru lagi sekarang.”
“Jangan, bosen tau cuma liat orang gelantungan mulu.”
“Pirates lebih bosen gue liatnya, kapal doang.”
“Apaan Madagascar? Emang kita anak TK?”
Aku kesal mendengar mereka ribut setengah berteriak. “Udah, Harry Potter 8 aja,” ujarku memecah keributan. Semua menoleh padaku.
“Emang ada?” tanya Roni.
“Ada-adain aja. Abis kalian berisik, sih.” Aku memalingkan muka. Memandang gedung Bandung Electronic Center di seberang.
Alisha menimpali, “Ini tempat umum, jangan seenaknya teriak-teriak. Ini kan bukan angkot punya bapak kalian.”
Semua diam, manyun dinasihati Alisha. Kalau Alisha sudah buka mulut, tidak ada yang berani melawan. Dia memang yang paling dewasa di antara kami.
“Udah, udah. Ntar kan gue yang beli tiket, gue yang nentuin kita mau nonton apa.” Roni nyengir kuda. Yang lain melotot. “Kan biar adil, daripada debat terus, gak beres-beres. Masa mau nonton tiga-tiganya? Bangkrut ntar kita. Udah susah-susah nyari duit juga. Iya kan?”
Aku setuju dengan RoniAngkot melaju melewati Jalan Merdeka. Kami turun di samping BIP alias Bandung Indah Plaza, tujuan kami. Setelah Roni membayar ongkos angkot, kami berjalan memasuki pelataran BIP. Masih menggunakan seragam putih-abu, kami menaiki eskalator sampai lantai paling atas di mana studio XXI berada.
Kami duduk di ruang tunggu, menunggu Roni membeli tiket, popcorn, dan minuman. Kemudian dia datang sambil kerepotan membawa enam popcorn dan enam gelas soda.
“Nonton apa kita?” tanya Alisha sambil menyeruput soda.
“Gosshh-heeerr,” jawab Roni yang mengunyah popcorn.
“Hah? Geser?” tanya Emy.
“Bukaaaaan,” Roni menghabiskan popcorn di mulutnya. “Ghost Heart.” Dia merogoh saku seragam. “Nih tiketnya.”
Semua berebut melihat tiket, kecuali Mey yang baru datang dari toilet. “Gue kan takut film hantu, Ron. Kok malah nonton yang begituan?” Mey merajuk.
“Bukan film horor kok,” kataku. “Film Korea ini mah.” Aku menunjuk sebuah poster film di dekat kami. Mey beringsut mendekati poster yang kumaksud.
“Aaaaaaa!” Dia berteriak. Kami terlonjak kaget. “Yang main Kim Hyun Jae!”
“Siapa? Kimyonje?” tanya Roni polos. Mey membalikkan badan.
Kim-Hyun-Jae, dasar badut!” ujarnya marah. “Aktor ganteng tau.”
Roni nyengir. “Gantengan gue kali.”
“Iye ganteng,” ujar Emy. “Gelandangan tengik.”
Roni melirik kembarannya. “Apa sih, sirik aja.” Emy menjulurkan lidah.
“Kok elo beli tiket film ini sih? Kenapa gak yang laen?” Daisy yang dari tadi diam bicara.
“Mau gimana lagi,” Roni mengangkat bahu. “Film yang lain abis. Yang kesisa cuma itu doang. Lagian itu juga film komedi kok, kata mbak yang jual tiket filmnya bagus.”
“Kok bisa abis? Sekarang kan baru hari Jumat, masih siang lagi. Kok udah rame?” tanya Alisha.
Roni mengangkat bahu lagi, “Mana gue tau, Al.”
Hening sejenak. “Eh, hari ini hari Jumat kan? Kamu gak Jumatan, Ron?” tanyaku. Yang ditanya mengangkat alis.
“Gue Kristen. Ngapain gue Jumatan?”
Aku menepuk dahi. “Oh iya, sori aku lupa. Kebiasaan ngingetin sepupu aku jadi kebawa-bawa deh.”
Emy tertawa. “Elo bukan lupa, Sha.” Emy melirik Roni. “Tapi…”
“Pe,” kata Roni.
“Iii,” kata Emy panjang.
“Ka,” balas Roni lagi.
“Uuuu.” Emy.
“Eeeeen.” Roni.
“Piiiikuuuuuun.” Emy dan Roni bersamaan meledekku. Mereka berdua tos. Aku tersenyum kecut. Sial. Yang lain tertawa.
Menyebalkan memang diejek oleh si kembar. Tapi mereka juga menyenangkan. Aku ikut tertawa.
“Teng tong teng tong.” Terdengar bunyi bel dari speaker. “Mohon perhatian. Studio enam telah dibuka. Para penonton diharap segera memasuki studio.” Begitu kata seorang wanita dari speaker. Lalu bunyi bel lagi.
“Kita studio berapa, Ron?”
“Enam.”
“Ayo cepet.”
Kami pun bergegas. Berjalan menyusuri lorong sambil menghitung angka yang tertera pada pintu studio, mulai satu sampai lima.
“Buset, ujung banget nih studionya.” Emy menggaruk kepala.
“Tiketnya?” tanya wanita petugas bioskop memakai rok panjang. Make up-nya menor. Roni mengangsurkan tiket kami kemudian disobek oleh petugas tadi. Sobekan yang satu dia simpan sementara sobekan yang satu lagi diserahkan lagi pada Roni. “Silakan.”
Kami bergantian masuk. Roni berjalan paling depan, karena dia yang paling tahu di mana kami akan duduk. “Di sini.” Roni menunjuk kursi kedua dari belakang, agak ke tengah. Kami bergantian menyelipkan badan di sela-sela kursi, kemudian duduk nyaman.
“Oh, iya, Sha. Untung tadi lo bilang Jumatan. Gue jadi inget sesuatu,” ujar Mey yang duduk di sebelah kananku.
“Apaan? Apaan?” bukan aku yang bicara, tapi Daisy di sebelah kiriku.
“Apaan sih?” tanya Emy di sebelah kiri Daisy.
“Sssstt,” kata Alisha di sebelah kiri Emy.
“Filmnya juga belum mulai, Al.” Emy sewot.
“Kita dapet job baru!” seru Mey.
“Ssssstt,” sekarang Roni  di sebelah kanan Mey yang mendesis. “Gak usah keras-keras, Mey.” Mey nyengir.
“Sori gue terlalu semangat.” Mey nyengir tanpa berdosa. “Tadi pas ke toilet gue ditelpon orang, tapi cuma sebentar soalnya yang nelpon bilang mau Jumatan dulu, nanti dia nelpon lagi katanya. Tadi gue hampir lupa, untung gue inget gara-gara elo bilang Jumatan ke Roni.”
“Dari mana?” tanyaku.
Mey tersenyum jahil, “Tebak!”
“Mana aku tau. Kalo aku tau gak bakal nanya lah,” ujarku sebal. “Dari mana sih?”
“Rumah Mode, “ jawab Mey singkat.
“Hah? Rumah Mode?” seru Alisha kencang. Aku menoleh. Bahkan Alisha yang di ujung pun mendengar. Kulihat yang lain melongo.
Roni menjawil lengan Mey. “Serius Mey? Rumah Mode?” Mey menganguk-angguk berkali-kali seperti Woody Woodpecker.
Daisy melirik Roni, “Elo tau Rumah Mode, Ron? Gue kirain elo cuma tau Gasibu.” Daisy terkekeh. Roni manyun.
Mey menatapku, “Elo bikin konsepnya ya, Sha. Seperti biasa.” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Bingung. “Sekarang kan libur, pasti elo banyak ide.” Mey antara memuji dan merayu.
“Ntar dipikirin deh, ya.” Kataku akhirnya.
“Asik, dapet duit banyak dong kita,” ujar Emy polos. Kulirik Mey mengangguk lagi.
Aku menghela napas. Membuat konsep untuk factory outlet sebesar Rumah Mode? Ampun deh, gak kebayang.
“Elo pasti bisa kok, Sha.” Roni menepuk bahuku. “Kayak yang elo bikin di nikahan kakak gue sama Emy. Pasti keren. Konsepan elo kan emang selalu keren.”
Aku nyengir. “Thanks, Ron.”
“Yah, tapi konsep sekeren apapun tidak akan ada apa-apanya tanpa sinematografi yang mendukung.” Roni pura-pura membetulkan kerah.
Mey menempeleng kepala Roni. “Sombong lu. Sok jago kayak ayam jago.”
“Yee, emang bener kan?” bantah Roni. Mereka ribut lagi.
“Ssssttt,” bisik Alisha. “Diem bisa gak? Bentar lagi dimulai.” Mey dan Roni diam. Mulai sibuk dengan popcorn dan soda masing-masing.
Oh ya, aku belum cerita tentang bisnis kami kan? Bisnis yang unik, belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak kusangka bisa berpenghasilan sendiri walau masih duduk di bangku SMA. Apalagi bisnis ini dijalankan bersama mereka semua, teman-temanku. Alisha, Mey, Daisy, dan si kembar Emy-Roni. Mereka teman-teman terdekatku. Aku anak tunggal dan tidak punya teman bermain selain mereka sejak SMP. Hanya mereka yang menemaniku, bahkan ketika Mama pergi. Merekalah peri-peri hatiku.
Semua berawal dari keadaan keuangan kami yang kering kerontang seperti musim kemarau setahun yang lalu. Sebuah ide brilian ketika keadaan mulai menekan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment