Powered by Blogger.

Tentang Saya

My Photo
Rizka Khairunnisa
View my complete profile

Followers

About

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

RSS

Dalam Hujan


     Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya, selamanya … ¯
Anin langsung pasang muka jutek mendengar lagu yang dialunkan radio di kamarnya sore itu. Ni yang request sapa, sih ? Nyindir aku, ya ?
Yah, lirik d’Cinnamons yang diiringi akustik itu terasa menusuk hati Anin. Prince Charming-nya nggak pernah tahu kalau Anin sukaaaa banget sama dia. Azka namanya. Cowok cakep di sekolahnya, sebangku sama dia, lumayan pinter, baik pula.
Masih terngiang di benak Anin ketika ia baru masuk SMP Putra Bangsa beberapa bulan lalu. Saat itu ia kebingungan mencari kantor guru. Ayahnya yang hanya mengantarkan sampai gerbang tidak bisa mengantarnya sampai menemui wali kelasnya. Urusan kerjaan. Lagipula waktu itu bel masuk sudah berbunyi. Untunglah, d’Prince Charming menolong.
Karena kebetulan cowok itu telat dan tahu ada cewek yang  kayak anak ilang. Sehabis bla bla bla sebentar, jadilah mereka ke kantor bareng. Setelah Azka menuliskan nama dan kelasnya di buku daftar anak yang terlambat, ia masuk kelas. Sementara Anin menunggu di kantor sebelum diperkenalkan oleh teman-teman kelas barunya, karena sang wali kelas mengajar di jam kedua. Kalau sekarang kalau nggak salah sih BP.

ÚÛÚÛÚÛÚÛ

Setelah Anin memperkenalkan diri di depan anak-anak 9C, Bu Sofi, wali kelas Anin yang merupakan guru bahasa Inggris mempersilakan Anin duduk. Bukan mempersilakan Anin memilih tempat duduk. Artinya, bangku yang kosong hanya satu. Anin mengedarkan pandangannya. Yap, di barisan paling timur, menghadap jendela. Sebelahnya, ya ampun ! Cowok itu ! Cowok yang tadi ke kantor guru bareng dia. Cowok itu senyum, mempersilakan Anin duduk di sebelahnya. Anin pun menuju bangku itu, duduk di sana dengan perasaan malu.
Di akhir pelajaran, Bu Sofi bilang kalau Azka boleh menemani Anin keliling sekolah, supaya bisa lebih mengenal sekolah barunya. Azka yang terpilih jadi ketua kelas mengiyakan. Makin gondok si Anin.
Tapi, penilaian Anin tentang Azka yang ia pikir seperti anak cowok pada umumnya (bandel, males, jorok, ga’ sopan, dsb.) berubah. Tentu setelah ia keliling sekolah dengannya, setelah duduk sebangku dengannya, ngobrol dengannya, mengenalnya lebih dekat. Ternyata ia baik, nggak banyak ngoceh, dan supel juga sama lawan jenis, tapi nggak berlebihan. Dan, setelah dua bulan semenjak kepindahannya, Anin merasakan sesuatu pada Azka. Sudah bisa ditebak rasa apa itu. Rasa yang muncul tanpa diduga. Rasa yang muncul pada setiap manusia, yang normal tentunya. Rasa indah yang merasuk ke telaga jiwa. Rasa yang ...
”ANINDYA PUTRI MAHARANIIIIIIII !!!!!!!!!!” Anin melonjak kaget. Kak Andin rupanya. Kenapa ya ?
”Kamu nggak denger apa aku udah manggil kamu puluhan kali ??!!” Wah, marah dia. Pakai mencak-mencak segala. Emang aku ngapain, ya ?
”Beli kertas kado sana !” Kak Andin mengangsurkan uang lima ribuan.
”Tapi, hujan ...”
”Sebodo amat ! Emang kamu nggak tahu kegunaan payung ?!” Kak Andin masih sewot.
Anin mengambil payung dekat rak sepatu di ruang tamu sambil manyun. Dasar, udah tau temen kuliahnya ulang taun besok, baru beli kertas kado sekarang, nyuruh lagi. Anin melirik Indra, kakak keduanya yang masih mengenakan seragam putih abu-abu, mendengarkan MP3 lewat earphone sambil membaca majalah.
Dan kenapa yang disuruh selalu aku ??????!!!!!!

ÚÛÚÛÚÛÚÛ
           
Anin kesal. Sudah disuruh-suruh dengan tidak hormat, sudah jauh-jauh pergi ke warung terdekat (warung di sekitar rumahnya tergolong jarang), eh ... barang yang dicari habis. Kebayang gimana reaksi dan tindakan selanjutnya dari Kak Andin.
Anin menyusuri blok perumahan tempat ia tinggal dengan lesu. Ia teringat Azka lagi. Sudah empat bulan semenjak kepindahannya dari Semarang ke kota kecil ini. Sudah dua bulan Azka sering bertanya Anin kenapa. Sakit atau bete, atau lagi ada masalah sama keluarga atau kenapa, karena Anin sering diam dan menjawab setengah hati kalau ditanya. Anin tidak pernah menjawabnya. Masa’ sih dia dijahati sama teman yang belum satu semester ia kenal, atau ada masalah dari ortunya tercinta, apalagi sama kedua kakaknya. Yah, walaupun kadang-kadang nyebelinnya gak ketulungan.
Masalah yang aku hadapin sekarang, adalah aku teramat sangat bingung bin nggak tahu harus memperlakukan rasa yang bersemi di hati aku sekarang, Ka. Dipendamkah, atau aku yang maju duluan. Cewek pedekate duluan ? Nggak banget !!!!!
”Pergi dulu, ya, Ris !”
Ha ? Perasaan kenal deh sama ni orang ...
”Emang ga pa-pa, Ka ? Belum berenti lo, ujannya.”
Nah, ini juga aku kenal. Tapi, siapa, ya ?
”Gak pa-pa lah, Ris. Cuma gerimis ini. Ya nggak, Ka ?”
 Kalau yang ini aku gak tahu. Siapa, nih ?
Anin mencoba melongok ke sebuah rumah di ujung gang. Dan, melongolah dia. Anak cowok yang berdiri di teras itu kalau nggak salah Haris, anak 9A. Dan yang lagi markirin motor, itu kan Azka ? Trus, cewek yang lagi pakai helm siapa ???
”Hati-hati, ya. Jangan pacaran mulu. Minggu depan semesteran, lo !” Haris yang dulu sebangku sama Azka tersenyum. Entah bagaimana reaksi dua orang yang sudah duduk di atas angsa besi itu. Wajah mereka tertutup helm.
Azka menyalakan mesin dan membunyikan klakson, tanda ucapan selamat tinggal pada Haris. Si cewek menaikkan kaca helmnya dan mengatakan, ”Makasih, ya, sepupuku sayang ...” sambil melambaikan tangan. Motor itu melaju hingga hilang ditelan rumah di ujung gang sana. Haris masuk ke dalam. Sementara Anin mematung di tempatnya masih dengan payung di tangan dan perasaan terguncang.

ÚÛÚÛÚÛÚÛ

Azka ? Pacaran ? Sama cewek tadi ? Anak mana ?
Sepupuku sayang ? Haris sepupu cewek itu ?
Kalo gitu, gimana ceritanya Azka bisa ketemu cewek itu terus jadian ? Eh iya, kan ada Haris. Paling dia yang  jadi Mak Comblang-nya. Eh bukan, Ki Comblang. Tapi ... AAAARRRRGGGGHHHH !!!!!!
Anin membanting payung di teras rumah saking kesalnya. Pintu depan terbuka. Kak Indra muncul, mengerutkan kening melihat payung yang letaknya terbalik dan wajah adiknya yang ditekuk.
”Lagi ngamuk, nih ?”
Anin mendelik ke arah kakaknya. Indra mengambil payung biru yang terbalik dan memeriksanya kalau-kalau ada rusuknya yang patah.
Anin memandangi Kak Indra yang sudah berganti pakaian dan mengenakan ransel, ”Mau ke mana ?”
”Ke rumah temen.” Setelah yakin payungnya tak cedera, Indra mengenakan sandalnya. ”Pinjem payungnya, ya !” Indra pergi tanpa persetujuan Anin. Anin diam. Kak Andin muncul dari balik daun pintu yang masih terbuka.
”Mana ?” tagih Kak Andin.
Anin menggeleng, ”Habis.”
”Beli di utara, gih !”
Mata Anin membelalak, ”Jauh amat !” Kak Andin hanya mengangkat bahu. ”Payungnya dipake Kak Indra !”
Kak Andin menghilang masuk ke rumah. Lagi-lagi Anin gondok.

ÚÛÚÛÚÛÚÛ

Anin menyusuri blok perumahannya dengan lesu. Di warung utara milik Bu Indah yang letaknya 1 kilometer dari rumahnya, barang yang dicari pun tidak ada. Anin heran. Memangnya sekarang lagi musim apa, sih ? Musim hujan, musim orang ulang tahun, musim kawin, apa malah sunatan ? Kertas kado habis di mana-mana. Bisa-bisanya ???
Anin memandang papan nama kedai bakso Pak Sobri. Enaknya hujan-hujan begini makan bakso. Hmmm ...
”Hari ini aku seneng banget loh, Ka.” Lho ? Ini kan ...
”Kenapa ?” Ini juga. Ini kan suara ...
Anin mengintip ke dalam kedai. Ya ampun, lagi-lagi Anin ketemu Azka ... dan ceweknya !
Anin pura-pura memandangi harga bakso di papan itu untuk mendengar pembicaraan Azka dan pacarnya. Sesekali Anin melirik ke pasangan yang duduk dekat jendela itu.
”... ini tu date kita yang paling asik, sambil makan makanan favorit aku. Kamu kok tau ?”
”Ya tau, dong.” Azka tersenyum. Iiih, senyumnya kok tulus banget sih ? Aku minta dong...!!
”Makasih, ya ... Say.” Cewek itu senyum malu. Kemudian melanjutkan makan.
Sementara tangan kanan cewek itu sibuk menyendok kuah bakso, tangan kanan Azka meraih tangan ceweknya yang lagi nganggur. Menyadari itu, muka si cewek langsung kayak kepiting rebus, merah. Kehangatan seketika itu terhenti ketika guntur mengelegar hebat. Mereka berdua tersentak kaget, termasuk pengunjung lain dan Pak Sobri sendiri. Tak terkecuali Anin. Ia langsung lari. Tidak hanya karena takut petir, tapi hatinya sudah koyak, tak utuh, tak berbentuk. Sudah cukup apa yang aku lihat. Sudah cukup hati aku retak. Sudah cukuuuup !!!!!
Anin terus melangkahkan kakinya. Tak peduli dengan hujan yang menderas. Tak peduli tatapan keheranan orang-orang yang melihatnya.
Anin berhenti berlari, terduduk di tengah jalan. Napasnya terengah, matanya basah. Anin menangis. Air matanya tersamarkan rintik hujan. Anin menengadahkan tangannya, menatap ke atas langit.
Kenapa semua ini harus terjadi sama aku ? Aku sayang sama dia, tapi kenapa begini jadinya ? Apa dia nggak ngerti kalau aku suka sama dia ? Apa kurang isyarat yang aku kasih sama dia ? Kenapa aku harus ngalamin semua ini ? Kenapaaaa ?????
Anin tergugu di tempatnya. Meluapkan emosi di hatinya. Tak ada orang yang berada di luar rumah karena hujan semakin menderas. Air mata Anin pun ikut menderas. 
”Sialan ! Hujannya malah tambah gede !” rutuk seseorang berseragam putih abu-abu. Dilepasnya helm. ”Duh, gak bawa mantel, lagi !” Ditutupnya bagasi motor dengan keras.
Ia berteduh di teras toko kelontong yang sedang tutup. Digulungnya celana abu-abunya yang basah sebatas betis. Sosok itu mengedarkan pandangan. Alis kanannya terangkat ketika menemukan sosok cewek yang duduk di tengah jalan. Cewek itu lalu bangun dan berjalan berbelok ke blok lain. Kakinya dilangkahkan pelan sekali, tanpa semangat. Cowok yang melihatnya tersadar kalau cewek itu menangis. Terlihat dari tangannya yang hanya mengusap mata dan pipinya, bukan rambut dan seluruh wajahnya.
Dan ketika cowok itu melihat wajah si cewek dengan jelas, ”Lho, itu kan Anindya ?! ”
ÚÛÚÛÚÛÚÛ

Anin duduk di meja kafe dengan bertopang dagu. Dipandanginya pengunjung lain siang itu sambil merenungkan kejadian kemarin sore. Ia pulang dengan baju basah kuyup. Kak Andin yang merasa bersalah menyuruh Kak Indra ke minimarket. Anin masih ingat ketika Kak Indra dengan tegas menolaknya, males katanya. Tapi saat Kak Andin menunjuk Anin yang berhanduk keluar kamar dengan lesu, Kak Indra nurut. Dan untungnya Anin tetap sehat esoknya. Tidak seperti Kak Andin yang ringkih, kehujanan sedikit langsung sakit.
Anin melirik Gucci hijau di pergelangan kirinya. Jarumnya mengatakan kalau siang itu sudah jam 13.15. Anin gerah. Ia mengipasi diri dengan daftar menu. Milkshake-nya tinggal setengah. Azka mana, ya ?
Anin heran. Ngapain cowok itu nyuruh dia stand by di kafe ini sepulang sekolah ? Jujur, awalnya Anin senang. Tapi ia langsung ingat kalau cowok itu sudah punya gandengan. Dan ketika ia sudah lumutan menunggu selama setengah jam, dengan perasaan kesal campur heran, tiba-tiba kening Anin berlipat. Dilihatnya Azka yang menggandeng pacarnya.
Oh ... njemput dulu, toh. Anin manggut-manggut sendiri. Sambil lalu, Azka mengatakan sesuatu pada Anin.
”Nanti ada yang mau ketemu kamu. Nggak lama, kok. Tunggu bentar, ya !” Dan cowok itu duduk semeja dengan ceweknya. Rasa kesal Anin sudah sampai ubun-ubun. Udah nunggu setengah jam, disuruh nunggu lagi ??? Nggak tau kakiku udah kram apa ?? Anin hampir membawa tasnya dan bergegas pulang ketika sebuah suara menyapa.
”Sori, nunggu lama, ya ?” Cowok berseragam SMA menarik kursi di depan Anin. Mata Anin meneliti cowok itu dari ujung jambul sampe ujung sepatu. Ini Azka versi cowok SMA, ya ?
”Boleh aku duduk ?” Anin tersentak, kemudian mengangguk kecil.
”Kamu kakaknya Azka, ya ?”
Cowok itu hanya manggut-manggut dan senyum, ”Kenapa ? Mirip, ya ?” katanya balik tanya. Anin senyum. ”Mau pesen apa ?” Cowok itu membuka daftar menu.
Menit berikutnya adalah saat yang membosankan bagi Anin. Makan bareng Alifian ia lalui tanpa minat. Cowok itu mirip wartawan. Nanyaaa... mulu. Hobilah, makanan favoritlah, inilah, itulah. Anin hanya menjawab : ’hmm, apa ?’ ; ’sori, tadi kamu bilang apa ?’ ; ’nggak tahu, ya ?’ ; ’hmm ... gimana, ya ? nggak tau tuh !’ ; atau ’bisa ganti topik nggak ?’. Dan sebisa mungkin, Anin memasang tampang oh-you-are-so-boring.
Anin menatap ke arah meja Azka untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kalinya pula hatinya terbakar. Lama ia menatap mereka. Kemudian Anin merasakan teman semejanya hening, Anin heran. Anin menoleh ke arah cowok di depannya. Tatapannya aneh. Tajam dan lurus ke depan. Anin lama-lama salting juga. Mana enak dipelototin kayak gitu ?
Dan yang paling bikin Anin tambah bingung, Fian megang tangannya, erat. Seolah Anin gak boleh lepas darinya. Setelah satu menit yang menegangkan, Fian bersuara.
”Nin, kamu mau jadi pacar aku ?” Mata Anin membelalak. Bola matanya hampir keluar saking kagetnya. Apa jurus aku nggak ampuh ?
”Ma-ma-maksud kamu ?” Anin rada grogi. Cowok itu senyum, lebih tulus dari yang pertama tadi. Setulus senyum Azka sama ceweknya yang Anin liat kemarin.
  ”Tenang aja. Aku nggak bakal bikin kamu nangis kayak kemarin sore, kok.”
Mata Anin sepertinya sudah benar-benar keluar sekarang.

ÚÛÚÛÚÛÚÛ

Cerpen ini saya buat ketika saya duduk di bangku SMP kelas 9
Cerpen ini juga bisa dilihat di blog paman saya di akfahmi.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment